SANDEKALA DAN NARASI REMAJA KOTA SETELAH MAGRIB

Pertunjukan "Kala" Teater Smadasa - SMAN 1 Dayeuhkolot dalam Festival Teater Remaja 6, Minggu (22/4). Foto oleh Dokumentasi FTR 6


DAUNJATIONLINE.COM - Bandung (23/4) Pertunjukan kedua di hari pertama Festival Teater Remaja (FTR) 6 Jawa Barat dan Banten dibawakan oleh kelompok teater Smadasa, dengan judul pertunjukan ‘Kala’. Pertunjukan ini Berangkat dari mitos tradisi di tanah sunda tentang sandekala. Sosok hantu penculik anak-anak yang berada di luar rumah ketika magrib. Mitos sandekala menjadi penanda yang tradisi bersinggungan dengan yang modern. Pertunjukan ini bermain di antara tegangan tradisi dan modern sebagai aktifitas orang-orang urban di waktu magrib sampai malam. Urbanitas masuk bersama pergaulan yang terjalin lewat sosial media.
Adegan dimulai dengan sekelompok anak remaja dengan pakaian tradisi sunda (celana pangsi, baju putih dan sarung yang disalempangkan di badan) masuk dari kanan dan kiri panggung. Berbaris, lalu membuat koreo bermain permainan tradisi; gerakan dan nyanyian, membuat pola koreo permainan yang dimulai dengan mengucapkan jalele-jalele-jaa dan bermain permainan tradisi orai-oraian. Satu komposisi adegan awal ini mencoba memunculkan ingatan tentang yang tradisi sebagai nilai moral, kebersamaan dan kepatuhan. Sebelum masuknya teknologi handphone yang dianggap memutus, dan mengasingkan diri dari pertemuan-pertemuan kolektif semacam permainan tradisi.

Adegan berlanjut pada panggilan Ibu dari pintu yang diset di tengah panggung, menandakan magrib akan datang, di mana anak-anak harus segera kembali ke rumah, kalau tidak: akan diculik sandekala. Kembalinya anak-anak ke rumah membawa persoalan lain yang muncul dari tokoh Anak Perempuan. Aktifitas masyarakat urban masuk bersama handphone yang dibawanya. Anak Perempuan yang mulai menentang mitos sandekala dan ingin menjadi bagian dari aktifitas masyarakat urban di malam hari. Tegangan antara yang tradisi dan yang modern muncul dari pertemuan si Anak Perempuan dan Ibu, ditandai dari adegan Ibu bernyanyi lagu tradisional dan anak bermain handphone; Anak Perempuan mengenakan earphone dan bernyanyi lagu pop.

Adegan di atas menjadi narasi awal untuk penonton masuk ke dalam peristiwa sandekala dan narasi yang bergulir di setelah magrib. Pertunjukan ini melihat apa yang terjadi di generasi Z (millenial); adalah tentang aktifitas pergaulan masyarakat urban di lingkungan remaja setelah magrib. Waktu malam. Adegan dijalin dari perpindahan peristiwa-peristiwa masyarakat urban di malam hari, yang dalam pertunjukan ini dipilih peristiwa di kafe dan peristiwa di klub malam. Menariknya, perpindahan ruang ini disiasati dengan memainkan boks (kotak) dari kayu sebagai artistik, yang bisa di-ubah-ubah; sebagai kursi dan sebagai meja.

Peristiwa kafe adalah peristiwa di mana anak-anak remaja nongkrong. Ada yang sedang berpacaran atau berkumpul bersama teman-teman tongkrongan, aktifitas yang biasa kita lihat di kafe pada umumnya, memesan makanan lalu upload ke media sosial, foto bersama pacar di kafe lalu upload ke media sosial. Lalu peristiwa berpindahke situasi klub malam. Dengan musik dj, orang-orang menari, minuman alkohol, memperlihatkan keseksian. Narasi kafe dan klub berada di sekitar kegamangan si Anak Perempuan menjadi asing dengan cara menempatkan dirinya sendiri, dalam situasi-situasi masyarakat urban. Dia memiliki banyak teman, tapi tetap merasa kesepian. Kafe dan klub malam menjadi mitos lain dari sifat sandekala yang mengasingkannya.
Sutradara dalam pertunjukan ini memainkan efek pengasingan yang membuat tokoh Ibu dan Anak Perempuan keluar dari aktifitas masyarakat urban dalam pertunjukan tersebut. Pengasingan ini dilakukan sebagai penjarakan antara cerita pertunjukan dan penonton. Pada peristiwa pengasingan ini, tokoh Anak Perempuan mendialog-kan teksnya langsung ke arah penonton. Saya melihat ada strategi di mana teks-teks penting disampaikan lewat ruang yang asing ini, seperti saat tokoh Anak Perempuan mengatakan: saya memiliki teman banyak tapi saya merasa kesepian. Ruang asing ini ditandai dengan cara dialog yang berpuisi, berbeda dengan dialog ketika tokoh langsung berdialog dengan tokoh-tokoh lain, yang menggunakan nada bicara sehari-hari.

Di dalam keramaian Klub malam, Ibu muncul membawa lampu  semprong. Semuanya mematung, menjadi adegan pengasingan si Anak Perempuan, lalu merindukan Ibunya di dalam adegan pengasingan tersebut. Ibu mencari anaknya. Anak-anak yang menjadi penanda tradisi di awal adegan juga muncul dalam adegan itu. Semua berkumpul dalam peristiwa klub malam, arus orang-orang urban. Ibu terus memanggil si anak untuk segera pulang. Kemudian, sosok hitam tinggi gambaran sandekala muncul. Begitulah kira-kira adegan dalam pertunjukan Kala ini berakhir.

Dalam pertunjukan ini sandekala adalah mitos yang lalu menjelma sebagai media sosial, kafe, klub malam. Lalu Ibu, yang selalu memanggil anaknya sebagai peringatan 'tidak baik untuk keluar malam'. Di mana waktu malam menjadi arus orang-orang kota yang padat, dan kita, dapat hilang di dalamnya.

[Ganda Swarna, Wartawan Daunjati]

Related

Teater 9129126607201121393

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item