SELAMATKAN LAH GENERASI Z AGAR TIDAK SEPERTIKU

Pertunjukan Teater Tesnika "Ada Apa Dengan Z?" pada FTR 6, Senin (23/4) 2018. Foto diambil oleh: Adjie Prasetyo

..duh Gusti.. Selamatkanlah Generasi Z agar tidak seperti aku..

DAUNJATIONLINE.COM - Bandung, (24/4) Drama ini dimulai dengan kehidupan keluarga yang sederhana serta lingkungan pedesaan yang jauh dari kata modernitas kota, membuat Rum tumbuh sebagai anak SMA yan rajin dan tekun, juga kasih sayang serta perhatian orangtuanya, membuat Rum sebagai gadis yang taat beribadah dan patuh kepada orangtua.

Sementara itu sosok Setan, dengan kostum merah dan menyeramkan, tidak menyukai Rum yang tumbuh menjadi anak baik. Setan ini berencana akan mengubah semua prilaku maupun sikap yang dimiliki Rum, menjadi sosok yang dia inginkan. Dengan meminta bantuan tokoh seorang manusia, yang memakai kemeja, jas, dasi, celana hitam, dan nyeker (tidak pakai alas kaki), tokoh ini memiliki dan menguasai fitur-fitur gadget seluruh dunia. Pertanyaan yang muncul kemudian, tokoh yang berpakaian rapi ini sebenarnya siapa? Ini menjadi menarik karena setan memohon bantuan kepada seorang manusia, yang, dalam tradisi-pemahaman masyarakat kita justru mestinya sebaliknya. Mereka sudah berteman lama, ditandai oleh teks “ada apa kawan lamaku?”, kata tokoh berdasi itu pada setan.

Di sekolah, Rum selalu mendapatkan nilai rapor tertinggi. Tapi itu dulu, semenjak kedatangan anak baru yang lebih pintar. Anak baru ini mendapatkan nilai lebih baik dari Rum. Si anak baru ini menjadi perwakilan sekolah untuk mengikuti lomba matematika. Anak baru ini bisa mendapatkan nilai tertinggi, karena dia memiliki ponsel, yang membuatnya lebih mudah mencari informasi dan mengakses pengetahuan, tidak seperti Rum. Rum marah, dia tidak lagi mendapatkan nilai paling tinggi di sekolahnya, dia juga merasa tertipu oleh kedua orangtuanya yang selalu menasehatinya agar tidak tergiur modernitas kota yang menjalar ke desa.

“Abah dan Ambu bilang: orang yang terlalu banyak main henpon bisa jadi orang bodoh.. Rum tidak mau menjadi orang bodoh..”, ucap Rum ketika ditawari sebuah ponsel oleh si anak baru itu. Padahal, si anak baru itu membantu Rum, agar mempermudah Rum dalam mengerjakan tugas dan soal-soal yang diberikan sekolah. Tapi akhirnya, Rum mau juga. Rum menerima ponsel itu, dengan harapan dia mampu mengerjakan soal dengan cara yang mudah, cepat dan bisa mendapatkan lagi nilai tertingginya. Dia mulai mengenal facebook, line, instagram, dan lain sebagainya. Ini kali pertama Rum memiliki ponsel dan 'bermain' dengan dunia internet. Karena keasyikan, dia malah menjadi lupa akan tujuannya menerima ponsel itu untuk mendapatkan nilai tertinggi, dan malah tenggelam oleh fitur yang sifatnya hiburan.

Banyak yang berubah sejak Rum memiliki ponsel. Rum menjadi sering melawan kepada orangtuanya. Sudah tidak mau menurut dan mempercayai setiap perkataan orangtuanya. Sekarang dia lebih sering mendengarkan teman-temannya, ponselnya, si anak baru dan oteman-teman barunya di sosial media. Ponsel juga mempertemukan Rum dengan dunia game, juga dunia cinta: seorang laki-laki. Rum bertemu laki-laki yang dia kenal dari facebook. Saat bertemu di rumah, ternyata laki-laki itu berencana jahat terhadap Rum, yang saat itu sedang sendiri di rumah. Rum diperkosa oleh laki-laki yang dikenalnya lewat sosial media. Rum terpukul. Rum merasa takut dan kecewa pada ponselnya. Ponsel yang membawa perubahan bagi hidupnya, perubahan buruk.

Tokoh berdasi dan setan muncul, merasa senang melihat keadaan Rum. Pertanyaan yang muncul melihat alur-cerita sampai di adegan ini: apakah tepat menilai teknologi sebagai ukuran turun-naiknya moral? Abah dan Ambu juga kecewa terhadap Rum, terutama setelah kejadian yang menimpa Rum. Abah tidak mau lagi mengakui Rum sebagai anaknya, walaupun, Rum tetap dibiarkan tinggal bersama berkat bujukan Ambu. Tetapi tetap saja itu membuat Rum makin tersiksa. Rum merasa dirinya telah masuk pada lembah keburukan yang dalam.Rum merasa harus bunuh diri. Nasib Rum dalam drama ini, sebenarnya merupakan upaya penggambaran atas narasi segolongan masyarakat desa yang, masih meyakini bahwa kemajuan teknologi seperti ponsel, internet dan sebagainya akan menghancurkan moral.

Dalam adegan di saat Rum akan bunuh diri, dia mengucapkan doa kepada tuhan, untuk menyelamatkan generasi Z: Duh Gusti selamatkan lah generasi Z agar tidak sepertiku.. Kalau saya bisa menjadi salah satu tokoh dalam drama ini, saya akan bilang: diselamatkan dari apa, Rum? Tuhan telah lama berpesan pada kita: Aku tidak menyelematkan suatu kaum, kecuali Ia menyelamatkan dirinya sendiri. Tapi, kau sendiri yang memilih menutup kemungkinan itu.

Dalam pertunjukan ini, panggung dibagi menjadi tiga bagian: rumah, sekolah dan ruang dunia maya. Teknik ini sebenarnya kurang efektif, membagi panggung menjadi tiga bagian dari tiga latar berbeda. Ditambah peran tata cahaya, yang menjadi salah satu elemen pembentuk ruang dan waktu, bekerja kurang maksimal. Cahaya terlalu redup. Bahkan ekspresi aktor pun sering tidak terlihat jelas. Pembagian tiga ruang ini menyebabkan panggung penuh dengan properti-properti yang tidak efektif bagi sirkulasi aktor. Banyak pencahayaan yang bocor. Misal, saat adegan berlangsung di rumah, tapi cahaya menembus ruang yang lain, yang membuat imajinasi atas ruang otomatis runtuh. Konsistensi penggunaan logika ruang juga masih jadi problem. Misalnya, ketika adegan Rum pulang sekolah bersama teman-temannya. Ia datang dari arah kanan. Padahal di adegan yang lain, pulang sekolah selalu dari arah kiri.

[Pahrul Gunawan/Wartawan Magang Daunjati]

Related

Teater 1298979690048457390

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item