TRAGEDI REMAJA DARI SIRKUIT BUDAYA VIRTUAL



Pertunjukan "Saat Termakan Zaman" dari Teater Aksi SMKN 15 Bandung dalam Festival Teater Remaja VI se Jabar Banten. Foto Joshua E. 
DAUNJATIONLINE.COM - Bandung (23/4). “Seorang perempuan tanpa identitas ditemukan tewas tertabrak kereta Jakarta-Bogor ketika sibuk memegang handphone”, begitulah sebuah kabar yang dibawa angin. Lantas terlihat  rombongan ziarah, yang membawa lilin dari kanan kiri, sedangkan ditengah panggung terlihat  seorang perempuan tergeletak dibungkus kapan dan seorang ibu menangis. “Maafkan ibumu, nak” bersama suara orang membaca yassin dari balik kegelapan. Sebuah akhir dari kisah ”Saat Termakan Zaman”  dari Teater Aksi – SMKN 15 Bandung. Kisah seorang remaja SMA yang mencari tugas sekolah yaitu membuat puisi dengan jalan searching  dunia virtual. Namun sang anak tersesat didalamnya sejenis lorong gelap dalam kebudayaan, sementara monumen-monumen tokoh penyair seperti Chairil Anwar, Ws. Rendra dan lain-lain bertebaran di situs-situs online menjadi hantu bagi seorang remaja 90-an, generasi yang tumbuh bersama perangkat elektronik.


Dunia dalam genggaman “cyber-space” yang dekat namun gagap meski setiap hari telepon seluler dipegang. ‘Tirta’ tak dapat menemukan apa yang diingingkan, tak dapat membuat puisi dan lupa bagaimana ia hidup antara realitas indrawi dengan realitas virtual meski kedunya adalah sama-sama menjadi keseharian seperti browsing atau surfing program-program tertentu dalam internet. Megerjakan tugas sekolah melalui fasilitas internet berarti membiarkan diri disiolasi berjam-jam bertatap muka dibalik layar,. Hingga pada akhirnya menjelma menjadi seseorang yang ‘Mawar’ sebut sebagai “ yang terjabak, tak bisa kembali dan kita dimakan zaman”.

Pertunjukan "Saat Termakan Zaman" dari Teater Aksi - SMKN 15 Bandung dalam Festival Teater Remaja VI. Se- Jabar Banten. Foto: Adi Nugraha.
Pertunjukan “Saat Termakan Zaman” dari Teater Aksi – SMKN 15 Bandung berlangsung selama 45 menit di GK. Sunan Ambu Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung. Tidaklah menempatkan “cyber space” sebagai dunia dimana setiap orang diundang untuk hadir menjadi dirinya sendiri dengan berbagai tombol-tombol di tangan sebagai kunci untuk memulai realitas baru, sebuah kehidupan yang disusun dari kebolehjadian elektronik. Melainkan “cyber space” sebagai ‘lorong gelap’ yang menjadikan seorang remaja tak lagi dapat menjalani kehidupan, tak sempat menengok kanan kiri sesaat selain layar monitor. Internet sebagai bagian dari habitat sekaligus bikin celaka. Tubuh remaja yang ceria namun tidak punya arah selain mengikuti sesutau yang hits. Tubuh yang selalu ingin tahu, mencari siasat meski dengan jalan berbahaya. Sebagaimana yang terlihat dalam adegan ketika Tirta dalam realitas virtual dikejar-kejar oleh dua pelakon yang sebelumnya live streaming

Pertunjukan “Saat Termakan Zaman”  hadir dengan tata artistik yang simbolik berupa tiga buah kursi dengan pohon lampu kelap-kelip yang menepel di belakangnya dan video live streaming dari telepon seluler di layar belakang panggung dari pelakon diantara lajunya adegan. Peristiwa banyak penitipkan adegan kepada yang tak bernama atau “orang-orang dimakan zaman” kumpulan orang pengguna internet yang membaca puisi “Aku” dari Cahiril Anwar, dan vlogger sebagai cerminan atas  tragedi seorang remaja ketika asik browsing puisi hingga ketabrak kereta api. Namun sayangya peristiwa bergulir begitu saja seperti sesutau yang tak pernah terjadi apa-apa dan tak ada apa-apa. Panggung menjadi sesutu yang berjarak  antara yang dialami dengan yang dipersepsi dari kehidupan sendiri sebagai remaja.

Melalui pertunjukan “Saat Termakan Zaman” Teater Aksi mencoba menelisik lebih jauh bahaya dari kebudayaan internet yang menjadikan remaja tumbuh sebagai generasi isolativelonely dan autis. 

[John Heryanto/Daunjati]



Related

Teater 7725154635632529269

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item