CATATAN KAKI HARDIKNAS 2018



“Menciptakan lulusan yang siap bersaing di dunia luar, siap kerja” Begitulah selogan lembaga pendidikan setiap tahun, dengan biaya pendidikan yang terus naik dan berlipat ganda.

Sejak pertama kalinya diperkenalkan di Indonesia pada masa kolonial.  Pendidikan hadir  sebagai ekosistem aneka kepentingan. Kepentingan akan tenaga kerja murah, kepentingan untuk menjaga kelangsungan penjajahan, kepentingan untuk membedakan menak dan rakyat jelata, kepentingan membedakan tuan dan budak, dan berbangai kepentingan lainya yang mengatasnamakan institusi.  Sehingga pendidikan yang tadinya bertujuan untuk mencerdaskan kehidupan, membebaskan, memberi kebahagiaan dan kegembiraan atau memanusiakan manusia. Menjadi tempat yang sterill dari hiruk pikuk peroalan masyarakat disekitarnya, ruang tak berpijak, adi luhung, kegagahan kata-kata, musium kehidupan yang dibekukan, standar angka-angka,  molek, prestise dan lain sebagainya.

Mahasiswa seperti ikan yang tinggal di aquarium yang mengandaikan laut, sementara ia telah diajauhkan dari  laut, dari alam pikiran yang bebas. Seorang yang sentiasa diciptakan untuk menjadi  domba, memungut serpihan kata-kata penghotbah, sekedar mengikuti telunjuk sang pengembala. Seorang yang sentiasa dididik, belajar, yang tak luput dari kesalahan, yang tak hapal dan lain sebagainya. Pendidkan pada akhirnya menjadikan sesorang menjadi linglung, yang tak pernah memiliki kesadaran akan hidupnya. Hingga sekolah pada akhirnya hanya sebatas transaksi semata dan sialnya SSP-nya tiap tahun makin mahal.

[John Heryanto / LPM Daunjati]

Related

Pendidikan 4760691423369739305

Posting Komentar

emo-but-icon

item