ASE KAE DAN NARASI DARI BENTANGAN TALI

Pertunjukan "Ase Kae" - Kristo Mulyagan Robot. Foto: John Heryanto.


“Saya, lahir di Manggarai tapi tidak dibesarkan disana, segalanya bisa hilang kecuali persaudaraan”
begitulah Kristo Mulyagan Robot beujar dalam sebuah layar infokus yang disetel berulang-ulang di Loby GK. Dewi Asri - Insitut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung (14/15) sebagai pengantar pertunjukan “Ase Kae”. Kata-kata itu mengingatkan pengunjung, khususnya orang-orang manggarai yang tinggal di Bandung, pada ungkapan  “muku ca pu’u neka woleng curup, teu ca ambo neka woleng lako”. Sepasang penari laki-laki dengan lincah, atraktif dengan prisai dan cambuk ditangan berloncatan di halaman Gedung. Saling menyerang bergantian menjadi pemukul atau penangkis  di bawah terik matahari, tanpa iringan gendang dan gong maupun ‘nenggo’ atau ‘dere’ dari para pendukungnya yang melingkar menari-nari, seperti lajimnya tari caci ditampilkan saat syukuran musim panen ‘hang woja’ maupun ritual tahun baru ‘penti’. Tarian ini dimainkan untuk memperkenalkan budaya Manggarai, selain pameran kain songket dengan berbagai motif dan bagi-bagi kopi arabica manggarai dan kue kompyang dari Perkumpulan Muda Mudi Manggarai Bandung (PM3B) kepada para pengunjung. Digelar pula diskusi membincangkan Manggarai bersama Dr. Fransiskus Borgias, “Manggarian, Myths, Rituals, and Cristtianity: Doing Contextual Theology in Eastern Indonesia”.


Salah satu upacara ritual di Manggarai- Diskusi bersama Fransiskus Borgias. Foto:John Heryanto


Sebelum gereja-gereja katolik datang. Orang manggari sudah memiliki kepercayaan pada yang tinggi, yang menggenggam langit dan di bumi, seusuatu yang tak bernama. Menganut, menghayati serta memiliki pandangan dan dunianya sendiri sejak masa silam. Kemudian terjadilah perjumpaan antar budaya ‘intercultural encounter’  antar orang manggarai dengan yang dibawa  misionaris. Dari kehidupan semula yang tradisional  menuju pada kehidupan paska-tradisional. Hingga berkembang pada cara pandang dunia baru yang sentiasa tumbuh dan bernegosiasi dengan praktis kekristenan. Berbagai tradisi terkait dengan kebudayaan manggarai hingga kini masih hidup,  bahkan muncul gerakan kebangkitan tradisi lama yang didukung oleh Gereja dan orang-orang manggarai di diaspora. Suatu kewajaran, karena pada dasarkan kehidupan orang manggarai tak lepas dari ritual. Hal ini sebagaimana yang dijelaskan oleh Borgias bahwa “dalam praktik kehidupan dan kebudayaan manggarai tak ada satu pun yang disebut menyimpang, bid’ah atau semacamnya tapi yang terjadi serupa endapan-endapan yang senantiasa berkembang dan lain bentuk dan linear seiring dengan perjalanan sejarah dan kekatolikan”


Diskusi bersama Fransiskus Borgias. Foto: John Heryanto

Yang berdiam dalam gelap

Sebagai orang yang bukan Manggarai, dan  terbatasnya pembendaraan kosakata flores, beberapa kata saja itu pun saya dapat dari teman. Sehingga ketika menonton pertunjukan “Ase Kae”-nya Kristo MR di GK. Dewi Asri. Dimana dialog tokohnya mengunakan bahasa Flores, tanpa hadirnya terjemahan.  Ada bentangan jarak antara yang  dilihat dengan didengar. Ruang jeda dari durasi penerjemahan menjadi sesuatu yang  hadir silih menyusun. Senantisa dikejar batas waktu kadaluarsa antara menerjemakan, keterhubungan dan lain sebagainya. Saya seperti seseorang yang pergi menanggalkan bahasa di mulut. Pemilihan bahasa flores dalam pertunjukan ini. Barangkali sengaja dipilih karena sutradara membayangkan penontonnya ialah orang flores atau manggarai yang tinggal di Bandung, bukan yang lain. Namun yang menonton pertunjukan ternyata 2/3 nya bukan orang flores.  Barangkali pula, bahasa flores sengaja dipilih oleh penggarap atas jarak kepergian. Orang rantau, merawat bahasa flores menjadi salah satu cara untuk dapat terhubung dengan  flores. Jika memang bahasa flores menjadi pilihan satu-satunya bahasa dalam pertunjukan? Mestilah ada strategi lain dalam mengkomunikasian bahasa pertunjukannya, kecuali pertunjukan ini ditujukan khusus untuk komunitas flores yang tinggal di Bandung.

Pertunjukan “Ase Kae” berangkat dari dongeng dan 'tari caci' manggarai. Kisah yang dulunya, adik kaka ‘ase kae’ pergi kesuatu tempat bersama dengan seekor kerbau. Si adik masuk ke dalam lubang dan sang kaka menolongnya dengan menjulurkan ekor kerbau yang menyeruapai tali atau cambuk sehingga sang adik dapat tertolong. Dan untuk mengungkapkan kegembiraan itu mereka bergembira, menari-nari mejadikan kulit kerbau sebagai perisai dan mengenakan hiasan kerbau dikepala. Kisah ini serupa pula kisah perginya dua berasudara ‘ Empo Mahsur dan Masur’ dari Minangkabau ke Manggarai Raya saat terjadinya peperangan di Minangkabau.  Kisah tentang lahirnya "tari caci" menjadi kisah adik ‘ase’ kaka ‘kae’  yang meninggalakan kampung halaman menuju ke suatu tempat, lantas berpisah dijalan karena seutas tali yang diikatkan keduanya terputus oleh duri di hutan. begitulah akhir dari yang fana. seperti hadirnya tari ‘Congkasae dipenghujung adegan ketika ‘ase kehilangan ‘kae’ dalam hutan, gelap dan kudus.

Pertunjukan "Ase-Kae" Kristo Mulyagana Robot. Foto: John Heryanto

Pertunjukan bermula dari hadirnya ‘ase-kae’ berhadapan, dengan gerakan yang betumpu pada kaki, ritmis dan tangkas. Dengan sarung songket berwarna gelap dan krincing, lonceng yang dilingkarkan ke pinggang. Menghentak-hentak, buyi seruling yang melengking dan tetabuhan gong, keringat yang mengucur dari tubuh bertelanjang dada. Berputar-putar kesana kemari diantara hamparan daun kering yang berserakan, Diantara para pemusik dan penyayi yang berdendang, duduk melingkar. Disela-sela lingkaran ada empat tumpukan bambu mengerucut diletakan di empat sudut, serupa rangka atap rumah adat manggari ‘mbaru niang’ dengan tali merah diujung bambu atas. Rangka bambu yang menjadi tempat keluar masuknya aktor maupun penari, tempat memanggil, mencari kehilangan ‘ase’ dan ‘kae’, tempat untuk kembali, dan bercermin. Batas lingkaran, menjadi ruang yang memisahkan antara rumah atau kampung-nya ase-kae dengan  perjalanan atau hutan yang ditandai dengan hamparan daun yang melingkar juga penonton. Lalu lintas dan pergerakan aktor, dan keluar masuknya iringan penari senantiasa berputar ke kekiri, semakin mengukuhkan pola pemanggungan yang diadopsi dari pertunjukan rakyat atau upacara-upacara ritual di manggarai.

Tubuh-tubuh yang penuh kelakar dari pelakon Rico Davey dan Andre Jedarus. Hadir menggabruk, penuh kegesitan yang sentiasa bersiasat dalam ritme yang cepat. Teks-teks dari bahasa ibunya hadir tanpa jarak, intim dan hidup. Sedangkan tari-tarian yang dibawa oleh Valeria Rahmat, Ayu Tanda dan Giovan Nera. Tidak sebatas pengantar pertunjukan, persimpangan narasi seperti jeda rehatnya adegan ‘Sae-Kae’ tapi juga membawa narasinya sendiri seperti pada adegan akhir ketika ‘Sae’ meratapi kehilangan ‘Kae’ dengan ‘tari congkasae. Pada adegan hadirnya tali  dari tangan Sae ke tangan Kae yang membentang dengan pola arah mata angin atau kerlip bintang dilangit. Hal ini penegaskan sebuah pengharapan ‘tudak’  akan segala yang dituju, angan dan keselamatan hidup. Namun tak ada satupun diantara keduanya ‘Sae dan Kae’ dapat bersama menyelami pertemuan, sehingga ketika talinya terputus keduanya saling mencari dan menelusuri kembali gelapnya hutan, rumah yang jauh.

Lewat pertunjukan inilah. Tampaknya Kristo Mulyagan Robot mencoba mengurai keberjakan yang sesaat. Yang tinggal di Bandung dengan tanah kelahirannya, manggarai. Sebagai seseorang yang pergi dari rumah lantas menelisik kembali kediaman.

[John Heryanto]


Related

Teater 917616823947962332

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item