CERITA KEBUN BINATANG DI DRAMA ABSURD KANON

Dokumentasi SATIRA YUDATAMA | Drama Absurd Kanon, 11 Juli 2018
Taman itu nampak seperti taman, namun bukan taman pada umumnya. Terlihat orang dengan tubuh kekar, bersemangat dan berenergi, namun kebingungan, ia luntang-lantung menyusuri taman itu. Orang itu bernama Jung (Mohamad Chandra Irfan), seorang homoseksual,  penyuka kebebasan dan senang sekali bicara. Lalu datang seorang paruh baya, Patro (Patuh Am), dengan buku tebal yang digenggam, buku itu biasa ia baca di taman itu. Ketika Patro muncul di panggung, terlihat dari gerak tubuhnya bahwa ia seorang tokoh penggugup dan tidak percaya diri. Patro seorang pekerja di salah satu penerbitan sastra. Tentang tokoh Jung, sedikit banyaknya Patro membocorkan, selepas Jung berkenalan dengan Patro, "Namamu mengingatkanku pada Carl Gustav Jung..".

Kisah pun dibuka dengan perkataan yang keluar dari mulut Jung “Kebun binatang..”. Patro penasaran, heran, dengan perkataan Jung tersebut. Dari sini lah kedua orang itu saling berinteraksi. Kemudian datanglah seorang Pak Tua (Ahmad S. Djamil), menyapu taman, ia ternyata petugas taman yang sudah lama bekerja di taman itu. Ia memeluk pohon sepanjang pertunjukan. Pohon aneh yang memiliki benjolan seperti buah zakar pada phaluss (kelamin laki-laki), tapi dalam satu adegan benjolan itu dibayangkan Pak Tua si penjaga taman tersebut, sebagai vagina. Bagian ini hanya bisa dilihat oleh penonton sebelah kiri dan depan, karena benjolan yang berada membelakangi penonton sebelah kanan.

Jung bercerita tentang pengalamannya dan masa kelamnya selama hidup pada Pak Tua dan Patro. Cerita itu abstrak, tapi menjadi teka-teki lain yang seolah menyambungkan, tapi juga seolah mengaburkan, dari cerita kebun binatang. Karena sejak awal Patro dan Pak Tua dibuat penasaran oleh Jung. Dua tokoh lain yang hadir dalam Drama Absurd Kanon adalah dua tokoh tak bernama. Satu orang adalah seorang dengan toa dan pakaian layaknya vokalis band rock (Adnan Cekcoy) dan seorang lain adalah laki-laki kurus, botak dan bicara bahasa alien (red asing, tidak jelas) (Ikeh Momokiyoshi).

Dokumentasi UNOTUNE | Drama Absurd Kanon, 11 Juli 2018
Secara keseluruhan Drama Absurd Kanon menghadirkan tema tentang kesepian manusia, kesenjangan sosial yang menciptakan kanon (red sistem, struktur sosial), gagalnya informasi merata di kehidupan ini, serta runtuhnya nilai-nilai kemanusiaan. Semua tema itu hadir di sebuah taman yang nampak seperti taman, namun bukan taman pada umumnya.  

Drama Kanon (1990) merupakan karya penting Djoko Quartantyo, di samping karya pentingnya dalam bidang teater eksperimen pada tahun 1978, Home Sweet Home, sebuah ‘teater diam’ dengan tinggal di atap bangunan selama 24 jam, atau ‘Mekanik’ nomor karyanya yang lain yang dipentaskan tahun 1979: pertunjukan yang dilakukan di atas genteng Gedung Institut Kesenian Jakarta dengan setting sebuah tenda parasut dan dua buah drum, dengan durasi pertunjukan 33 jam.
                    
Dalam kisah proses kreatifnya, Djoko Quartantyo, menurut Irwan Jamal dalam “Drama Kanon: Teka-Teki Kebun Binatang”, awalnya hanya ingin menerjemahkan naskah Zoo Story karya Edward Albee ke dalam bahasa Indonesia dan mementaskannya, daya kreatif yang didasari pikiran merdeka lah yang membuatnya menggubah Zoo Story menjadi lakon baru.

Pertunjukan Drama Absurd Kanon merupakan tugas akhir dari mahasiswa Program Studi Teater, Fakultas Seni Pertunjukan, ISBI Bandung, Mohamad Chandra Irfan yang mengambil konsentrasi minat pemeranan dan Sukma Sugara dengan konsentrasi minat penataan artistik, Rabu (11/7/2018), di Gedung Kesenian Dewi Asri ISBI Bandung.

Sejak pukul 18.30 WIB, halaman Gedung Kesenian Dewi Asri sudah dipenuhi oleh penonton. Sembari para calon penonton itu menunggu, yang unik dari helatan tugas akhir ini adalah keberadaan lapak baca buku yang diletakan di samping photobooth--dengan gambar poster dari pertunjukan ini. Durasi pertunjukan ini berlangsung kurang lebih selama 90 menit, dihadiri lebih dari 300 penonton. Sementara di lobi Gedung Dewi Asri disediakan kursi tambahan untuk penonton yang tidak bisa masuk karena penuh. Mereka pun menonton lewat layar proyektor.
                                                 
[Fahadpa A.Wartawan Magang]

Related

Teater 8735551631282251303

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item