ISBI BANDUNG, IJAZAH BODONG, DAN MANGKRAKNYA KERJA ADMINISTRASI


Salah satu bukti tidak terverifikasinya Nomor Ijazah lulusan ISBI Bandung Tahun 2016

Oleh: Mohamad Chandra Irfan*

Wisuda sudah kelar. Semua bahagia. Selepas itu ada pernyataan yang kerap membuntuti, “mau ke mana setelah ini?”. Di tengah roda akumulasi kapital, perdagangan bebas, privatisasi pendidikan, setiap pelajar atau mahasiswa mesti masuk dalam dunia persaingan. Eksesnya tidak semua bisa mengecap pekerjaan yang layak. Atau akhirnya nasibnya terkatung-katung. Predikat sarjana seperti tak ada gunanya. 

Sejak hari di mana dinyatakan sebagai seorang sarjana/alumni, sejak itu pula persiapan untuk kerja atau apa pun itu, disiapkan. Tentu saja semuanya mengharapkan tak ada rintangan apa pun, bisa berjalan mulus dalam mendapatkan pekerjaan. Tapi yang terjadi selalu berbanding terbalik: antara yang dibayangkan dengan apa yang terjadi, terbentang jauh. Barangkali sebagai lulusan seni yang dibesarkan oleh serangkaian aktivitas teoritik dan praktikal seni, harusnya predikat gelar Sarjana Seni, Sarjana Terapan Seni atau Diploma Seni, bisa menjadi daya tawar di hadapan pekerjaannya, terutama ketika bekerja dengan “orang lain”, tapi kemudian akan menjadi sangat inferior, karena mendapati kenyataan—selama ini nomor ijazahnya tidak terdaftar di-portal Kemenristekdikti. Kesimpulan yang akan didapat oleh “orang lain”  atau institusi atau perusahaan jika mendapati kenyataan demikian adalah: Anda berkuliah di tempat yang tidak mendapatkan legitimasi resmi dari Kementerian yang memayunginya.

Empat Tahun Silam: Dari STSI ke ISBI 

ISBI Bandung sebagai satu-satunya Perguruan Tinggi Seni di Jawa Barat, setiap tahun menerima mahasiswa baru dan melepaskan mahasiswanya, lewat wisuda. Tak hanya itu, ISBI Bandung selalu menggadang-gadangkan dirinya sebagai kampus yang mencetak “kreator” seni yang unggul. Mampu berdaya saing. Dan sejumlah visi dan misi lainnya. Hal tersebut seperti kabut di tengah kegelapan, selebihnya hanya cita-cita utopis, karena tidak pernah dibangun syarat-syarat material untuk merealisasikannya.

Bukti fisik sebagai seorang alumni, atau wisudawan adalah mendapatkan selembar ijazah dan selembar transkrip nilai akhir dari semester satu sampai semester delapan. Barangkali bagi sebagian orang gelar itu tidak terlalu penting, biasa saja. Artinya bukan sesuatu yang mesti dibesar-besarkan—karena selama predikat sebagai sarjana tidak memberikan kontribusi pada masyarakat yang tidak dapat mengakses pendidikan, sebab biaya pendidikan terlampau mahal; juga tak memberi kesempatan pada mereka yang tertindas dan terhisap untuk mengapresiasi dan menjadi bagian dari kesenian itu sendiri, selama itu pula predikat sarjana seni hanyalah dagelan semata.

Pasca Sekolah Tinggi Seni Indonesia Bandung dikonversi menjadi Institut Seni Budaya Indonesia Bandung pada tahun 2014, sistem birokrasi dan administrasi berganti pula. Ada perombakan struktural. Ditambah lagi semakin dipolarisasi dengan adanya fakultas. Tentu saja pengkonversian STSI menjadi ISBI menuai pro-kontra. Baik di tingkat mahasiswa maupun di beberapa kalangan. Pada saat peresmian STSI menjadi ISBI, terjadi juga demonstrasi dari mahasiswa, sebagai sebuah penolakan terhadap pergantian status tersebut. Saat itu tuntutan yang paling penting adalah: terlalu prematurnya lembaga ini (STSI) menjadi Institut. Juga sejumlah analisa lainnya yang menjadi poin-poin tuntutan. ISBI Bandung tetaplah menjadi “Institut”, tidak lagi menjadi “Sekolah Tinggi”, level statutanya setingkat lebih naik. Tapi di tengah-tengah itu masih menyisakan persoalan yang belum dituntaskan: absennya lembaga untuk memberikan kesejahteraan pada mahasiswa dan komponen lainnya, semisal, pegawai, cleaning service dan satpam.

Empat tahun berselang. Apa yang dikhawatirkan empat tahun silam ketika STSI dikonversi menjadi ISBI, ternyata mencuat di tahun 2018 ini. Kali ini datang dari lulusannya. Terhitung dari lulusan tahun 2015, 2016, 2017, dan Gelombang 1 2018, bahkan ada juga beberapa alumni yang lulus di tahun 2015 ke atas, mengeluh dan kecewa—nomor ijazah yang didapatnya tidak bisa diakses di laman PD-Dikti. Padahal mereka semua dinyatakan lulus sudah empat atau tiga tahun lalu. Selembar ijazah yang didapat tak lebih hanyalah manipulatif, tidak bisa diverifikasi. Sungguh ironi kejadian ini, kampus ISBI Bandung yang merupakan Perguruan Tinggi Seni Negeri, di bawah Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kemenristekdikti, nomor ijazah lulusannya tidak bisa diverifikasi.

Politik Lempar Masalah

Pada tahun 2017, Menteri Riset Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), M. Nasir mengeluarkan kebijakan tentang Penomoran Ijazah Nasional (PIN). Nasir menjelaskan, penomoran ijazah berbeda dengan nomor induk mahasiswa (NIM). PIN akan diberikan pada tahap akhir ketika mahasiswa menyelesaikan proses perkuliahan. PIN juga langsung terdaftar di Pangkalan Data Pendidikan Tinggi (PDPT). “Mekanismenya, begitu mahasiswa selesai kuliah langsung dikasih PIN. Jadi begitu PIN dibuka, secara otomatis nomor ijazah masuk pada PDPT", dikutip dari beritasatu.com.

Kasubbid Informasi dan Publikasi PDDikti, Kemenristekdikti, Franova Herdiyanto mengatakan, tak tercantumnya data mahasiswanya di laman forkB Dikti merupakan tanggung jawab Perguruan Tinggi (PT). “Data yang di-input ke dalam PDDikti (Pangkalan Data Dikti) sepenuhnya adalah hasil pelaporan Perguruan Tinggi sebagaimana yang telah tercantum dalam disclaimer pada laman forlap”. Lebih lanjut Franova mengungkapkan, Pusdatin Iptek (Pusat Data dan Informasi Ilmu dan Pengetahuan) Dikti sebagai pengelola PDDikti tidak berhak untuk menambahkan dan mengurangi data yang dilaporkanm juga sesuasi Permenristekdikti nomor 61 Tahun 2016 tentang Pangkalan Data Pendidikan Tinggi, Perguruan Tinggu memiliki kewajiban melaporkan data pendidikan tinggi setiap semester”, dikutip dari kompas.com,

Ketika Rektor ISBI Bandung, Dr. Hj. Een Herdiani, S.Sen., M.Hum., dikonfirmasi oleh salah seorang alumni Prodi Teater, Lulusan Tahun 2016 via WhatsApp terkait hal ini, Rektor menyebutkan bahwa hal ini sedang diselesaikan dan diurus dengan menemui tim terkait di Kementerian Ristek Dikti, “Insya Allah Ibu sudah bertemu dengan tim terkait di Kementerian dan sudah dibukakan aksesnya. Memang mengakses data ijazah mahasiswa itu hanya satu bulan setiap periode”. Lebih lanjut Rektor mengungkapkan, “Ibu sekarang sudah menginstruksikan kepada semua tim terkait di ISBI Bandung untuk mengerjakan ini, maksimal sampai tanggal 18. Mereka sudah siap. Sabar, ya, Ibu akan berusaha semaksimal mungkin”.

Lain halnya dengan Rektor, Warek 1, Dr. Benny Yohanes T, S.Sen., M.Hum., ketika ditemui oleh salah seorang alumni  Prodi Karawitan, Lulusan Tahun 2015, Rabu, 12 September 2018, di ruangannya, mengungkapkan, bahwa ini semua adalah kelalaian lembaga (ISBI Bandung). Warek 1 pun menyarankan agar membuat Surat Pernyataan yang ditandatangani bersama, berikut melampirkan copy ijazah yang ditujukan kepada Rektor. Saat dikonfirmasi lagi oleh salah seorang alumni terkait hal ini, Rektor sendiri menyesalkan terhadap kejadian ini, mengingat dia sudah punya tangan kanan Warek-warek, di bidangnya masing-masing, tapi masih saja ada hal yang tidak terkontrol.

Dari sini kita bisa lihat dan perhatikan, ke mana saja selama empat atau tiga tahun ke belakang kerja administrasi di ISBI Bandung ini. Sekalipun sudah ada staff atau pegawai terkait hal ini, akan tetapi menjadi sangat naif ketika hal yang seperti ini tidak menjadi perhatian para pejabat struktural ISBI Bandung, Rektor dan para Wakil Rektornya.

Apakah Warek 1 tidak mempunyai tanggung jawab terhadap hal ini? Padahal Warek 1 menangani Bidang Akademik dan Kemahasiswaan. Rektor menyayangkan kinerja Warek-wareknya, sementara Warek 1 menyarankan menyetor masalah ini ke Rektor. Apakah takut kotor “tangannya” sehingga kesalahan ini saling-lempar, sehingga mesti saling “cuci tangan”?

Surat Permohonan Penyelesaian dan Kekecewaan

Jumat, 14 September 2018, beberapa alumni menginisiasi untuk menyerahkan Surat Permohonan dan Kekecewaan yang dilayangkan ke pihak Rektorat ISBI Bandung, berikut isi Surat Permohonan dan Kekecewaan tersebut:

Melalui surat ini, Kami mewakili alumni lulusan tahun 2015, 2016, 2017, dan Gelombang 1 2018, Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung, menyampaikan permasalahan mengenai status ijazah kami yang belum terdaftar di PD-DIKTI, sejak tahun kelulusan kami sampai sekarang. Padahal di dalam pernyataan Dikti sendiri, pengabsahan nomor ijazah agar bisa terverifikasi paling lambat dua bulan sejak ditetapkan menjadi lulusan, dan itu semua bergantung pada penyerahan data dari kampus yang bersangkutan. Sementara yang terjadi bertahun-tahun sudah lulus, tapi tidak terverifikasi. Pola kerja administrasi seperti apa yang dikerjakan ISBI Bandung ini, jika kenyataannya demikian.

Hal tersebut sangat krusial bagi Kami sebagai Alumni, mengingat status terdaftarnya ijazah Kami sangat mempengaruhi dalam proses pencarian kerja dan aktivitas akademik, seperti beasiswa S2. Ditambah saat ini beberapa dari kami sedang mempersiapkan persyaratan pendaftaran CPNS 2018. Selain itu juga tingkat keabsahan kami sebagai seorang alumni yang mendapat predikat sarjana, tapi pada faktanya nomor ijazah kami tidak terdaftar.

Untuk itu kepada Rektor ISBI Bandung, sebagai pimpinan institusi mesti bertanggungjawab terhadap persoalan ini dan mesti bertanggungjawab di publik, apabila di kemudian hari, tidak dapat diverifikasi data lulusannya di hadapan Negara. Kami menuntut kepada Rektor ISBI Bandun agar: Menyelesaikan permasalahan ini dalam waktu yang sesingkat-singkatnya, paling lambat tanggal 17 September 2018, mengingat pendaftaran CPNS 2018 akan segera dibuka pada tanggal 19 September 2018.

Apabila permohonan Kami belum terpenuhi dalam waktu yang telah ditentukan, sesuai dengan amanat konstitusi dan mimbar kebebasan akademik—tentang kebebasan bereksperesi dan berpendapat—Kami akan melaporkan permasalahan ini ke Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan, Kemenristekdikti. Juga kami akan tetap menyampaikan hal ini ke publik sebagai bentuk keluhan kami, selama bertahun-tahun lulus, tapi ternyata ijazah kami tidak terverifikasi.

Demikian surat permohonan dan kekecewaan ini Kami sampaikan, atas perhatiannya Kami ucapkan terimakasih.

Sudah Saatnya Banting Setir

Melihat fenomena ini, ISBI Bandung mestilah melakukan “reformasi birokrasi” secepatnya, mengevaluasi kinerjanya, dan itu tidak hanya evaluasi internal pimpinan struktural saja, tapi juga dilibatkannya seluruh komponen civitas akademik dalam proses evaluasi tersebut: mahasiswa aktif, organisasi mahasiswa, dosen, pegawai, alumni, cleaning service, satpam, sama-sama duduk satu forum, saling mengutarakan pendapat, kritik-otokritiknya, sama-sama bisa mengambil keputusan—terbukti perwakilanisme tidak dapat merubah apa pun, selain hanya formalitas semata. Proses pelibatan semua unsur ini untuk menciptakan ruang demokrasi yang tidak hanya fasih dilafalkan saja, semboyan semata—tapi juga menubuh, menjadi tindakan nyata.

Di Prancis sana, pada tahun 2000, ribuan mahasiswa dan dosen (yang kebanyakan dosen ekonomi) membuat petisi: ”Kami ingin keluar dari dunia imajiner ini”. Mereka sadar, ilmunya makin jauh dari abstraksi teoritis karena absennya realitas sebagai hal yang mendasari teori-teori akademik. Sementara itu, di kampus seni satu-satunya di Jawa Barat ini, mahasiswa atau komponen lainnya (meski tidak semuanya) lebih asyik berkutat dengan dunianya sendiri, dengan realitas dalam pagar kampus, dengan ruang imajinasinya, tanpa merubah ketimpangan. Di kampus seni satu-satunya di Jawa Barat ini, yang fana adalah demokrasi, feodalisme dan penghisapan, abadi!

Karenanya, ketika kekuasaan hanya dijadikan ladang untuk menambah pundi-pundi atau ketika kekuasaan hanya menjadi lorong hitam yang penuh dengan perkoncoan, maka selamanya kesejahteraan hanya milik segelintir saja, tidak milik semua orang.

Sampai detik ini kami menganggap ijazah yang kami terima tak lain hanyalah berupa #ijazahbodongisbibandung, predikat kesarjanaan kami hanyalah #sarjanabodongisbibandung. 


*Alumni ISBI Bandung, Fakultas Seni Pertunjukan, Prodi/Jurusan Seni Teater, Lulusan Tahun 2018 Gelombang I. Wartawan LPM Daunjati.

Related

Opini 9098405798063661744

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item