JAS PANJANG PESANAN: PERSAHABATAN FENDER DAN MORRY

Foto oleh Fajrin Alwi / Wartawan Magang

“Baiklah akan aku pesan jas panjang”


Begitu salah satu dialog Fender (Rizal), seorang klerk tua yang sudah mengabdikan hidupnya selama 43 tahun bekerja pada sebuah perusahaan konveksi milik pengusaha bernama Ranting (Yusuf), dalam pertunjukan “Jas Panjang Pesanan” karya penulis Inggris Wolf Mankowitz. Pertunjukan ini merupakan salah satu pertunjukan dari rangkaian Tugas Akhir Gelombang 2 Jurusan Teater yang berlangsung sejak 31 Oktober, dibuka oleh pertunjukan “Penggali Intan”, akan ditutup pada 15 November mendatang oleh pertunjukan “Mega-Mega”. Rizal Sofyan yang memainkan tokoh Fender dan Umar Aziiza pada tokoh Morry, adalah dua orang yang malam itu (9/11) diuji sebagai peserta ujian, dalam minat akhir pemeranan.


Ketika lampu menyala, Morry seorang pria tua yang sedang menenggak Brandy, mengingat kuat tentang sahabatnya yang bernama Fender “Andai saja aku berikan jas panjang itu, mungkin dia tidak akan kedinginan lalu meninggal”. Sesal menyelimuti setiap tenggakan air yang masuk ke dalam tenggorokannya, kemudian muncul dari panggung, Fander dan kisah ‘jas panjang pesanan’-nya. 

Fender adalah seseorang yang tak pernah mampu memiliki jas  yang dia inginkan, padahal dirinya bekerja di perusahaan konveksi selama 43 tahun, tahun-tahun yang sia-sia bagi Fender. Tuan Ranting, anak kecil yang pernah dia temui di pabrik, kini beranjak dewasa dan menjadi pemegang perusahaan—yang dulu dipegang oleh kakeknya dan diturunkan kepada bapaknya—perusahaan tempat Fender bekerja. Hal yang tidak dia duga sebelumnya, anak itu sekarang memecatnya, dikarenakan usia Fander yang sudah tua dan sudah tidak mempunyai tenaga produktif lagi.


“Apakah ini adil?”, ujar Fender mengutuki nasibnya yang malang, kemudian Fender berpikir untuk memperbaiki jasnya yang sudah jelek.

“Penggal kepalaku jika ada penjahit yang dapat memperbaiki jasmu saat ini”, ujar Morry, saat Fender memaksanya untuk mau memperbaiki jas jelek milik Fender itu. “Lihat, lapisannya sudah tak mungkin diperbaiki”, lanjut Morry.


Tanda persahabatan yang sudah tebal, di mana usaha jahit Morry yang makin sepi pelanggan, tetap mengerjakan pesanan Fender bahkan dengan harga yang sangat murah untuk sebuah jas yang kuat pakai sampai 20 tahun.

Kemudian, dengan memasukkan tangan ke saku celananya dan matanya yang sayu, Fender menghitung pundi uang penny-nya. Tapi, ia tetap tak mampu membayar jas pesanannya dikarenakan dampak dari diberhentikan kerja secara sepihak dari perusahaan.


Morry adalah seorang penjahit tua yang sepi pelanggan. Dia mengalami depresi setelah masuknya era industry dengan ditandai pesatnya perusahaan-perusahaan konveksi (bermodal) besar yang menjamur, dan mengubah selera masyarakat kala itu. Konsekuensi logisnya: penjahit kecil tersingkir.

“Kau penjahit yang baik” dan “Telah kukatakan kepada setiap orang yang keluar dari hotel, bahwa kau penjahit terbaik. Hei, kalian pikir kalian itu ganteng? Jangan berpikir begitu sebelum kalian bertemu Morry!”, pernyataan-pernyataan yang diucapkan Fender, yang selalu diingat Morry. Hal tersebut muncul pada saat adegan awal. 

Era industri dengan persaingan modal dalam ekonomi telah menghancurkan kehidupan Morry, seorang penjahit potensial yang harus kehilangan pelanggan-pelanggannya, karena kalah bersaing oleh perusahaan-perusahaan konveksi besar yang sedang tren kala itu. Begitu pun Fender, ia hancur hidupnya oleh Tuan Ranting, yang dalam sistem ekonomi tersebut; sistem kapitalisme, merupakan kelas pemilik modal atau kaum kapitalis. Dalam kapitalisme, segelintir orang menguasai alat produksi dan sebagian besar lainnya tidak memilikinya dan harus bekerja keras, dengan upah yang jauh dari keuntungan yang didapatkan para pemodal. Kapitalisme lahir dari ketidakmanusiawian manusia, buktinya adalah Tuan Ranting yang memecat secara sepihak Fender dan tak memberinya pesangon. Selain saat bekerja selama 43 tahun, Fender tak pernah mendapat upah yang layak.

[ Ridwan Kamaludin / Wartawan Magang ]

*Tulisan ini merupakan versi revisi dari liputan Daunjati sebelumnya yang berjudul "Jas Panjang Pesanan: Drama Kesedihan Seorang Buruh" yang mengulas pertunjukan Jas Panjang Pesanan lakon karya penulis Inggris Wolf Mankowitz yang pentas di Gedung Kesenian Dewi Asri pada tanggal 9 November. Proses pengkoreksian dilakukan atas diskusi Ridwan Kamaludin, wartawan magang yang bertugas meliput dan menulis ulasan ini, dengan Joko Kurnain, dosen teater di kampus ISBI Bandung. Secara umum kesalahan wartawan--maupun redaksi terletak pada penangkapan alur cerita sehingga menghasilkan penyampaian yang keliru. Kesalahan khusus dan detail-detail perbaikannya akan dipaparkan dalam Tulisan Editorial, yang seharusnya diterbitkan sebelum tulisan hasil revisi ini diterbitkan (sesuai etika jurnalistik). Namun sampai hari ini, Tulisan Editorial belum dikerjakan, sebab masih terhambat oleh keterbatasan waktu untuk melakukan pertemuan antara kami Redaksi Daunjati dengan Joko Kurnain. Salam, Pimpinan Redaksi LPM Daunjati.

Related

Teater 7151932764509290857

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item