JIAN JUHRO: TEATER MUSIKAL MORALIS (DAN SEKSIS)

Catatan Pertunjukan Teater Musikal "JJ Atawa Jian Juhro" (karya Nano Riantiarno)

Foto oleh Fajrin Alwi / Wartawan Magang Daunjati

Panggung, termasuk seluruh gedung, gelap saat riuh tepuk tangan penonton dibarengi "Selamat menyaksikan!" dari MC pertunjukan "JJ Atawa Jian Juhro" lakon karya Nano Riantiarno. Pada malam itu dipentaskan di Gedung Kesenian Sunan Ambu, sebuah teater musikal besutan Hendrik Saputro, sebagai sutradara, sekaligus sebagai peserta ujian dalam Rangkaian Tugas Akhir Gelombang 2 Jurusan Teater pada malam itu (5/11).

Lampu panggung menyala, Juhro datang membawa obor bersama empat penari topeng, lima pekerja konstruksi di atas jembatan, bau dupa menyebar di hampir seluruh gedung. Adegan pembuka tersebut langsung memberi asumsi tentang dua dunia yang berbeda: dunia atas jembatan dan dunia bawah jembatan; dunia meja kantor dan dunia perempuan dengan obor. Asumsi yang mulanya kontras kemudian langsung runtuh saat Juhro, yang berada di dunia bawah, saling sahut-menyahut dalam dialog-nyanyiannya dengan Para Mandor, yang berada di dunia atas. 

"Untuk apa protes? Yang kita butuhkan bisa makan seadanya, bisa tidur, untuk kemudian bisa kerja lagi. Kalau tidak, kita akan memiliki mental serakah", ujar Juhro menjawab pertanyaan Para Mandor: "Kenapa tidak protes?"

Lalu setelah itu kehidupan kaum bawah jembatan memulai hari mereka, dengan bahagia dan siap bekerja. "Pasti seperti harapan!" dinyanyikan oleh mereka yang berprofesi sebagai pemulung, dengan tarian dan nyanyian penuh semangat, seperti tak berbeban, dan optimis. Entah optimis untuk apa. Kaum bawah itu terdiri dari Jian, Juhro, Mbah, Istri si Mbah, Mang, dan empat tokoh lain yang tak begitu jelas identitasnya selain adalah para pemulung yang tinggal di bawah jembatan.

Sampai di sini, adegan pembuka yang secara bentuk cukup membingungkan dalam konteks simbol yang digunakan dalam bahasa adegan; kehadiran empat penari topeng, obor yang dibawa Juhro, kontrasi ruang yang tidak konsisten membangun peristiwa, sampai pemunculan watak pasrah dan nrimo pada si orang bawah (Juhro) dan watak perlawanan pada si kaum atas (Mandor); menjadi agak terang dengan adegan orang-orang bawah jembatan yang memulai hari mereka dengan bahagia.

Sebuah adegan yang berpotensi mengarah pada parodi merayakan hidup sehari-hari, seperti adegan pembuka pada film Lego Movie, yang menampilkan kehidupan pagi hari para buruh dengan bahagia, menyanyikan lagu 'Everything is Awesome', tapi potensi peristiwa itu sepertinya tak dimanfaatkan. Sehingga benang merah cerita dan juga konflik tetap belum jelas sampai adegan ini, sebab beragam asumsi tentang point of view cerita yang belum saling terpaut.

Kekerasan Seksual sebagai Komedi, Tenggelamnya Penonton dalam Moralitas

Usai pagi optimis "Pasti seperti harapan!" para kaum bawah jembatan, lalu obrolan 'ngidam celana dalam' antara Juhro dan Jian. Juhro yang sedang hamil menginginkan sebuah celana dalam, yang ditawarkan oleh temannya, Hapsah, celana dalam yang bisa melar dan bisa mengecil. Juhro merengek minta agar Jian membelikan celana dalam itu untuknya.

"Biar bisa dipakai dan dilihat sama kamu" dan "Ini kan, karena Ju sedang ngidam" menjadi argumen Juhro tentang keinginannya memiliki celana dalam itu, saat ditanya alasan oleh Jian. Dialog yang langsung membuat penonton tertawa. Adegan komedi seksis pertama dalam pertunjukan ini.

Secara umum, efek komedi yang diciptakan pertunjukan ini berasal dari adegan seksis yang mengeksploitasi kecabulan dan perempuan sebagai objeknya. Seperti pada adegan Hapsah dan Maryam yang meminta izin pada si Mbah untuk tinggal di bawah jembatan, yang salah satu syaratnya adalah si Mbah boleh memeluk mereka berdua.

Dalam adegan yang sama, sebenarnya sempat ada bagian yang cukup menarik yaitu saat Istri si Mbah merasa cemburu. "Memangnya hanya orang kaya dan orang berpendidikan yang boleh cemburu?", teks yang diucapkan oleh Dhea Safira, aktor yang memerankan Istri si Mbah, dengan lampu panggung hanya menyorot padanya dengan pemain lain melakukan freeze. Menjadikan adegan ini cukup kuat dan memberi efek empati. Sebuah teks dari perempuan yang berasal dari golongan miskin, mempertanyakan kesenjangan hak antara ia yang miskin, dengan yang kaya, dia yang tak berpendidikan dengan yang berpendidikan, dalam konteks merasakan cemburu.

Namun baru saja penonton mendapat point of view tentang ketidakadilan, dialog lanjutannya "Menolong orang boleh, tapi bukan kah menolong pelacur sama seperti memelihara penyakit cacar?" membuat penonton dibawa tenggelam pada moralitas: dari semua orang-orang miskin yang ditindas, kecuali para pelacur lah yang tak berhak mendapatkan keadilan, karena mereka kotor secara moral?

Selain seksis sebagai cara yang dipilih pertunjukan ini dalam menciptakan efek komedi, ada hal lain yang bermasalah: narasi kekerasan seksual yang ditampilkan dengan tendensi memberi efek komedi. Narasi kekerasan seksual itu ada saat adegan Para Mandor menceritakan latar belakang Jian dan Juhro di atas jembatan, dengan nyanyian dan koreo yang ekspresif.

"..dia diperkosa oleh biawak, (memaju mundurkan pinggang, dengan ekspresi wajah puas)  ..diperkosa lagi (tertawa)"

Cara teks di atas diperlakukan bukan malah memberi efek penonton makin membenci Para Mandor (yang antagonis),  tapi malah memberi efek untuk menertawakan sebuah kekerasan seksual: perkosaan.

Fenomena menertawakan sebuah kekerasan seksual berasal dari sesuatu yang dikenal sebagai rape culture atau budaya perkosaan. Dalam salah satu tulisan tirto, budaya perkosaan adalah fenomena ketika perkosaan dan kekerasan seksual dinormalkan atau dianggap biasa. Hal itu terbentuk dari nilai-nilai sosial yang misoginis dan seksis, turunan dari ideologi patriarkis. Dalam ideologi tersebut, perempuan dan segala yang feminin ditempatkan di bawah kepentingan laki-laki dan segala yang dianggap mewakili maskulinitas. Sehingga dampaknya, dalam kasus pelecehan, seringkali ada stigma lebih besar pada para korban (yang mayoritasnya perempuan), ketimbang pada para pelaku (yang mayoritasnya laki-laki).

Pertanyaannya, apakah tak ada pilihan lain untuk menciptakan efek komedi, selain menertawakan kekerasan seksual?

Selain itu, tema ketidakadilan yang konon diusung pertunjukan ini, seperti yang ditulis dalam booklet, "Mengisahkan tentang masyarakat marjinal yang ditindas oleh kaum diktaktor. ...keadilan seolah tak berpihak pada mereka yang tertindas. Lantas untuk siapa keadilan itu?...", dari adegan ke adegan semakin memberi jaraknya, dan sesungguhnya makin mendekat pada konflik moralitas, yang dalam dunia nyata, moralitas; yang abstrak, sering kali sulit untuk mengukur keadilan; yang konkret. 

Dalam "JJ Atawa Jian Juhro" dua tokoh utama, Jian (Hilmi Zaini) dan Juhro (Ria Nilam) dikisahkan sebagai bagian dari masyarakat pemulung dalam sebuah pemukiman kumuh di Kolong Jembatan Jalan Blora. Secara ajaib, tanpa dijelaskan penyebab dan latar belakangnya, Jian dan Juhro merupakan orang yang dianggap penting dalam kelompok pemulung ini; juga dalam pandangan Para Mandor, hingga Jian harus menjadi sasaran penangkapan mereka. Padahal, jika melihat dari runutan ceritanya, Bordes (Cikal Gilang) lah yang menjadi tokoh kunci yang membahayakan dari kelompok pemulung, bukan Jian, yang hanya seorang suami dari istri yang sedang hamil tua.

"Bordes, kau subversif!", ujar Sekretaris saat Bordes baru saja memimpin sebuah serangan, entah sebuah demonstrasi, kurang jelas juga apa yang Bordes dan para pemulung lawan. Sebab adegannya terjadi tiba-tiba; suara chaos, kejar-kejaran, lalu dari mulut Bordes termuntahkan kata0kata perlawanan, seperti: "Kita harus bersatu!", "Kaum tertindas makin tertindas jika tidak bersatu!", dan lain sebagainya. Sayangnya, bersatu atas permasalahan apa, tak disebut dengan jelas oleh Bordes. Tapi dibanding Jian, Bordes lebih nyata mengganggu tatanan kaum atas jembatan (Para Mandor). 

Secara umum, sutradara banyak melupakan sebab-akibat dari setiap adegan dan pemunculan biografi tokoh yang kurang jelas, sehingga yang terjadi, banyak peristiwa panggung seolah terjadi secara ajaib. Tanpa sebab, tanpa penonton boleh tau bagaimana dan mengapa. Hendrik, terlihat lebih terfokus pada penggarapan teknis drama musikal (koreo dan nyanyian) yang pada nyatanya justru banyak kendala teknis ketimbang memperhatikan struktur dramatik dan keutuhan cerita.

Jian menjadi Ikon Moralitas Kaum Kolong Jembatan?

Jian seorang yang rasional dan seorang yang menjunjung moralitas di sisi lain. Jian sangat rasional di hadapan Juhro, yang menginginkan hidup ideal secara higienis untuk sang bayi. Tapi menjunjung tinggi moralitas: kejujuran, memberi pada yang berhak; saat menemukan dompet berisi uang yang sangat banyak, di saat dirinya juga memiliki kebutuhan untuk persalinan Juhro yang sebentar lagi. Jian memilih mengembalikannya, dan terjebak dalam perangkap Para Mandor yang, secara ajaib, juga sekaligus memiliki penjara, dan memenjarakan Jian. Jika Mandor merupakan simbol dari kekuasaan negara, sayangnya makna itu tidak terproduksi dari Para Mandor. Juhro harus melahirkan anaknya tanpa Jian. Ia lalu secara terpaksa menjadi pelacur, untuk membayar uang pengadilan membebaskan Jian. Tak cukup di sana kemalangan yang menimpa Juhro, bayinya yang ia titipkan pada Istri si Mbah diculik oleh Para Mandor--yang entah apa alasannya, tak pernah puas menimpakan kemalangan bagi Jian dan Juhro: kini menculik bayi Jian dan Juhro.

Secara ajaib lagi, Bordes yang sejak awal memimpin para pemulung untuk melawan, merencanakan sebuah misi menyerang kaum atas jembatan dengan 'ilmu dewa-dewa'. Misi itu terealisasi selanjutnya dalam adegan Bordes dan Para Pemulung berjalan berbaris, seperti sekumpulan orang yang sedang kesurupan. Ke mana Jian setelah itu, Ia bunuh diri dan memilih mati setelah mengetahui istrinya menjadi pelacur. Juhro, dalam teksnya memilih melawan, dengan membawa obor dengan diikuti empat perempuan pembawa lentera. 

Jian, sang pahlawan moral kaum bawah jembatan mati. Bordes masih terjebak dalam ketidakjelasan perlawanan utopisnya. Para pemulung tetap tak mendapat solusi bagi perubahan nasib mereka. Para Mandor, tetap menang tak terkalahkan. Sedang Juhro, dengan obor di tangannya, masih teguh dalam komitmen melawan situasi yang ada, seluruh penderitaan hidup yang seolah telah tertimpa padanya: penderitaan kemiskinan dan penderitaan moral.

Pada intinya, ketidakadilan tetap tak akan kamu pahami dari 150 menit pertunjukan ini. Bukan hanya ketidakadilan yang ada pada kenyataan, ketidakadilan pada dunia Jian dan Juhro pun tak mampu dipahami karena bias dari banyak bagian yang tidak penting. Entah, jika untuk sekadar menghiburmu, mungkin memang penting.

[ Naufal / Wartawan Daunjati ]

Related

Teater 3569099724383359349

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item