MEGA-MEGA: LUCU DAN PESAN YANG BIAS

Foto oleh Adi Nugraha L. (KMT ISBI Bandung)


Sedari masuk gedung pertunjukan, penonton sudah disuguhkan dengan pemandangan artistik yang simpel, dengan lantai ditutupi kardus dan sebuah tempat duduk besar. Dengan properti sederhana menunjukan bahwa imajinasi penonton sedang digiring menuju pemandangan kehidupan manusia-manusia kelas bawah. Selain pemandangan artistik yang sederhana, imajinasi penonton juga dibantu oleh musik orkes dangdut yang diperdengarkan di awal pertunjukan.

Mega-Mega adalah lakon karya Arifin C. Noer, yang malam itu dipentaskan di Gedung Kesenian Dewi Asri, kampus ISBI Bandung. Menjadi pertunjukan penutup rangkaian Tugas Akhir Gelombang 2 Jurusan Teater (15/11).

Lampu mulai menyoroti seorang perempuan tua yang dipanggil “Emak”, diperankan oleh Rahmah Farhanita, yang malam itu juga sebagai peserta ujian. Emak sedang menggendong sesuatu, bayangan tentang apa yang Emak gendong semakin jelas ketika perlahan ia menimang-nimang gendongannya, yang berarti ada sesuatu yang hidup di dalam gendongannya. Kemungkinan sesuatu yang hidup itu adalah bayi kecil yang hendak tidur, di tengah kesederhanaan malam, bersama seorang perempuan tua: emaknya.

Bersamanya pula terlihat seorang perempuan muda dengan dandanan menor, sedang menunggu sesuatu. Perempuan muda bernama Retno, yang diperankan oleh Yunita Fujiyama, aktor yang malam itu juga peserta Tugas Akhir. Retno adalah seorang pekerja seks komersial, ia sedang menunggu pelanggannya di gelapnya malam, di atas kardus-kardus bekas.

Selanjutnya, tokoh lain muncul: Panut, seorang anak muda lugu yang sibuk menyesuaikan diri untuk menjadi pengemis, setelah gagal mencopet seseorang. Mas Hamung, pria paruh baya dengan perawakan santai namun pincang di kaki kanannya. Lalu, Koyal yang diperankan oleh Bahrudin Said, satu lagi yang malam itu merupakan peserta ujian. Seorang bocah pengemis sinting yang memiliki impian menjadi seorang jutawan, itu terlihat ketika ia mulai menyamakan nomor lotere, meskipun tidak kunjung dapat, tapi Koyal tetap ceria. Rambutnya yang tegak berdiri semakin melengkapi sikapnya yang polos bahkan cenderung bodoh, semua tingkah lakunya di atas panggung membuat penonton tertawa.

Dan terakhir, Tukijan, suami dari Retno, seorang lelaki matang yang terlihat adalah seseorang pekerja keras, yang kaku, realistis, namun tempramental.

Foto oleh Adi Nugraha L. (KMT ISBI Bandung)

Semua tokoh yang dihadirkan silih berganti membuat penonton tertawa. Secara umum, permainan para actor berhasil membuat penonton tertawa, paling minimal tersenyum. Sampai-sampai kepedihan masyarakat kelas bawah yang sebenarnya menjadi latar dari konflik pertunjukan ini, sudah tidak lagi terlihat.

Namun tawa yang terus menerus beberapa kali malah membiaskan pesan yang ingin disampaikan, sehingga pesan tak terlalu digubris penonton. Alih-alih menangkap pesan-pesan teks, penonton larut dalam tertawaan. Mungkin karena penonton sudah mempersiapkan diri untuk tertawa dengan candaan-candaan selanjutnya, namun ketika yang dilontarkan adalah sesuatu yang serius bahkan sebuah pesan, akhirnya penonton tidak terlalu siap untuk menerima itu semua.

Contohnya ketika Koyal akhirnya mendapatkan lotere yang telah didambakannya sejak lama, lalu Koyal menjadi sombong dan ingin menjadi raja dari tokoh-tokoh lain yang ada di dalam cerita. Koyal membuat sebuah permainan ‘raja-rajaan’ yang melibatkan semua tokoh, kecuali Panut, yang tak kunjung hadir ke dalam panggung.

Semua tokoh mengiyakan keinginan Koyal untuk bermain dan berangan-angan menjadi seorang Raja, kecuali Tukijan, yang terlihat malas dan kesal dengan sikap Koyal. Tetapi Tukijan masih melakukan semua keinginan Koyal karena sang Raja selalu mengadu kepada Emak. Supaya Tukijan mengikuti semua perintahnya, apa daya, Tukijan tidak bisa melawan Emak yang dihormati.

Sampai akhirnya, Tukijan memberanikan diri untuk berontak dan menyobek lotere yang didapat Koyal. Ia menyobeknya dengan yakin dan kemudian melemparnya. Itu menjadi bentuk pemberontakan tidak ingin diperintah oleh seseorang yang bodoh dan sinting. Tapi itu pun hanya karena Koyal sedang berada di atas angina.

Jangan menangis, kalau kau tetap menangis kau tak akan pernah mendapatkan uang yang banyak itu kecuali hanya angka-angka!, pungkas Tukijan setelah Koyal menangis karena lotere yang didapatnya disobek Tukijan.

Sebenarnya masih banyak lagi pesan yang tidak terlalu sampai kepada penonton, dikarenakan penonton sudah terlanjur ketagihan bahwa akan banyak tawa-tawa yang akan mereka lihat dari panggung.

Barangkali juga, penonton sudah terlanjur beranggapan tidak terlalu peduli jalan ceritanya, melainkan hanya ingin dibuat tertawa oleh tingkah laku dari para tokoh.

“Kita tak pernah memiliki apa-apa, tapi kita selalu merasa kehilangan”

Pertunjukan diakhiri dengan kesedihan, Emak bersedih karena semua tokoh yang dianggap anak olehnya, pergi meninggalkannya sendirian, di tempat yang sama sedari awal mula.

Sampai akhirnya sosok yang ada dalam kain samping, yang sedari awal saya kira sebagai bayi mungil, adalah sebuah boneka bayi yang selalu Emak anggap bayi yang hidup, dan menemani kesepiannya.

Mega-Mega malam itu adalah sebuah pertunjukan komedi yang menghasilkan banyak tawa, meskipun hal tersebut membiaskan potensi pesan moral yang terlampau penting. Dibalut dengan keluh kesah, dengan teks-teks Arifin yang dalam yang tertutup oleh efek komedi yang mendominasi pertunjukan. Sebuah cerita tentang potret kehidupan masyarakat marjinal dengan berbagai macam konflik manusia, dengan kelucuan yang membalutnya. Atau menutupinya?

[ Firman / Wartawan Magang ]

Related

Opini 6940789867806727533

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item