PENGGALI INTAN: KESERAKAHAN PASKA REVOLUSI

Foto oleh Fajrin Alwi (Wartawan Magang Daunjati)
“Aku pergi mencari dunia yang tak lagi mengecewakan”. Ya, karena sakit hati akibat gurauan Sunarsih yang menginginkan suami kaya, Sandjoyo pergi menambang intan di lumpur-lumpur sungai gula, pedalaman Kalimantan. Di penambangan itu lah Sandjoyo tinggal bersama Sarbini dan Siswadi, sahabat seperjuangan era-revolusi. Siswadi yang menyelamatkannya ketika hendak ditangkap Belanda. Hingga beberapa bulan kemudian, akhirnya Sandjoyo mendapatkan sebutir intan. Sandjoyo belum lah puas, kedatangan kekasih lamanya tak lagi digubris. Jiwa Sandjoyo telah diselimuti dendamnya sendiri, hingga dirinya masuk ke lumpur, ke lubang galian, akibat mengejar Sarbini, yang ia curigai mencuri intannya. Begitu lah Kisah “Penggali Intan” karya Kirdjomulyo (1930-2000) yang ditulis pada tahun 1957, dipentaskan di Gedung Kesenian Sunan Ambu, Kampus ISBI Bandung (31/10) dalam Rangkaian Tugas Akhir Gelombang 2 Jurusan Teater.

Lakon yang penuh pergulatan, pencarian bernama manusia, syarat akan kebencian, kemarahan, juga kekecewaan sebagai mana yang tercermin dalam karakter tokoh-tokohnya. Sunarsih tiba-tiba muncul dengan rindu berbulan-bulan tak bertemu kekasih; penyesalan atas gurauan, kesalahpahaman 'suami kaya'; kesepian,  kesendirian dan jiwa yang semakin bergolak ketika terperosok ke dalam lumpur, hingga mengutuk dalam tangis ketika Sandjoyo terperosok ke dalam jurang. Siswadi yang merindu kampung halaman di tanah galian merasa senasib- sependeritaan dengan Sandjoyo. Siswadi seperti pula Sarbini, meneguhkan sosok dirinya di atas moralitas, sehingga menganggap Sandjoyo telah sesat dan kerasukan demit: karena ingin dapat intan lebih banyak lagi di penggalian, karena tak mau pulang kampung, dan tak ingat tuhan yang menentukan nasib. Menganggap bahwa Sandjoyo harus diselamatkan, karena telah percaya pada pikiran sendiri, bukannya pada nasib. Sedangkan Sandjoyo, yang memendam kecewaan sebab miskin, sebab kekasih menginginkan suami kaya, dan barangkali tak ada yang lebih menyakitkan dari luka karena cinta; bersama luka cinta itu lah ia merawat impian menjadi orang kaya: punya rumah besar, orang-orang di kampung menawarkan anak gadisnya; bersama luka, kekecewaan dan cinta yang hilang itu pula ia mencari kemerdekaan dirinya melalui jalan pikirannya sendiri. Hingga pada pengalamannya sendiri, Sandjoyo perlahan merasa hampa pada Sunarsih, digantikan dengan intan seperti pula warga kampung yang membanggakan harta. Mengedepankan persespsi harga diri, optimistik, tanpa kompromi namun berakhir tragis. Mati sebagai pencari intan. Sebuah idealisme keserakahan yang melampaui kawan, kekasih, juga pengalamannya di masa revolusi.

Keserakan yang melebih itulah, barangkali Iwan Setiawan tawarkan kepada penonton sebagaimana tertulis dalam booklet pertunjukan: Lakon ini memiliki kontekstulisasinya pada hari ini, di mana manusia semakin disibukkan dengan mencari kilau ‘intan’ (materi), yang tidak jarang menghancurkan jiwanya sendiri. Sayangnya, pada beberapa adegan “Penggali Intan”, para pelakon tak seutuhnya berada dalam situasi peran,  kadang-kadang lost (keluar) dari peran, terjebak pada kata-kata di bibir, sehingga gambaran psikologis tokoh menjadi tidak ter-unggah seutuhnya dalam reklamasi biografis. Ada ruang jeda yang membentang di antara dialog tokoh, di mana sang aktor sesekali terlepas dari penokohan, selain tempo yang tak terjaga cukup banyak pada adegan awal dan terjadi ticaletot (terpleset dalam pengucapan).

Foto oleh Fajrin Alwi (Wartawan Magang Daunjati)
Sedangkan ruang pertunjukan “Penggali Intan” yang digarap Abdul Hafidz, memperlihatkan keberangkatan, barang yang dapat dipindah ke mana pun, gubuk kayu dengan tiang penyangga di tengah. Ruang tunggu sementara, ruang darurat,  dengan dua buah peti kayu, dipan, tungku dari gundukan batu, dan rak piring kayu.

Pentas lakon “Penggali Intan”  pada Tugas Akhir malam itu, tiga bulan sebelumnya sebelumnya telah dipentaskan dalam Ujian Minat Semester 7 di Studio Teater ISBI Bandung. Jika dibandingkan, tentunya pertunjukan kali ini lebih cermat dan kental dalam menghadirkan gambaran  manusia yang dimakan oleh keserakahan.

[ John Heryanto/ Wartawan Daunjati ]


Related

Teater 5896781566458568230

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item