RUMAH BERNARDA ALBA: NERAKA ITU BERNAMA NORMA

Foto oleh Fajrin Alwi (Wartawan Magang Daunjati)

Rumah Bernarda Alba (1936) adalah drama terakhir yang ditulis Federico Garcia Lorca, seorang penyair dan dramawan Spanyol. Dua bulan setelah naskah drama ini ditulis, Lorca mati dalam pembunuhan yang dilakukan oleh pasukan pemburu simpatisan sayap kiri, partai nasionalis Falangis yang mewakili sayap kanan, golongan pendukung rezim fasis Franco.

Pada hari Sabtu (10/11) merupakan peristiwa di mana drama ini kembali dipanggungkan, dalam rangkaian Tugas Akhir Gelombang II Jurusan Teater di Gedung Kesenian Sunan Ambu, Kampus ISBI Bandung. Dalam pertunjukan ini, Laelatul Sani (Bernarda), Rahmah Fitriyani (Adela), Siti Nur Anjungsari (Martirio) dan Septiani Sri Ulina (Poncia) adalah mahasiswa yang diuji malam itu sebagai peserta ujiannya. Dibantu oleh aktor lainnya seperti Vivien (Babu), Cyntia (Amelia), Nindiya (Magdalena), Nenden (Angustias) dan Chyntia Dewi (Maria Josefa)

Pada adegan awal, lonceng gereja terdengar berdentang, lalu muncul dua orang perempuan berpakaian serba hitam, mereka (Poncia dan Babu) pembantu rumah tangga,  sedang menyiapkan makanan di meja. Mereka bercerita tentang masa lalu pemilik rumah, sambil menghayalkan angan-angan mereka: membalas dendam dan menjadi kaya. Tak lama berselang, terdengar teriakan dari arah kanan panggung: “Bernarda!!”, suara teriakan itu memecah percakapan keduanya. Sementara itu suara dari gereja terus terdengar: nyanyian lagu kristus.

Bernarda bersama anak-anaknya masuk, dengan pakaian serba hitam, suasana sedih nampak pada masing-masing. Setelah kematian suami keduanya, dengan dominasi Bernarda, masa berkabung dipaksa berlangsung selama delapan tahun di rumahnya, sesuai dengan tradisi keluarganya. Duduk, makan, bahkan berdoa sekali pun, kapan dan di mana mereka harus melakukannya, semua ditentukan oleh Bernarda, janda tua dengan tongkat yang selalu menopangnya.

Sudah seperti sabda tuhan, segala perintah Bernarda harus secepatnya dilaksanakan oleh semua penghuni rumah, tidak boleh dilanggar dan dia lah yang boleh mengatur segalanya.

Seluruh tokoh dalam lakon ini adalah perempuan, termasuk seorang nenek tua (Maria Josefa), yang merupakan ibu dari Bernarda yang selalu berteriak: “Bernarda, aku ingin kawin!”. Menurut catatan Prepared by The Classic Theatre of San Antonio tahun 2011 tentang Study Guide tentang naskah ini, latar belakang pemilihan tokoh yang kesemuanya perempuan memiliki hubungan dengan situasi sosial-politik Spanyol masa itu yang didominasi kaum konservatif yang sangat mendiskriminasi perempuan, juga kecenderungan feminis Lorca sebagai seorang dramawan yang sering mengkritisi Franco dan seorang homoseksual. 

Bernarda, melarang semua anaknya selain Angustias untuk kawin, selama masa perkabungan itu. Bahkan mereka dilarang untuk berkeliaran ke luar tanpa seizin Bernarda. Semua berada dalam kuasa Bernarda, anak-anaknya hanya bisa melihat dunia luar dari jendela atau paling tidak di dalam pagar, setiap kali para laki-laki lewat sehabis pulang dari kebun. 

Angustias adalah anak Bernarda dari suaminya yang pertama, yang memiliki kekayaan jauh di atas suaminya yang kedua: ayah dari anak-anaknya yang lain. Angustias akan menikah dengan seorang laki-laki bernama Pepe El Romano. Adik-adiknya berpikir bahwa Pepe el Romano menikahi Angustias karena alasan kepemilikan harta warisan ayahnya.

“Kalo dia (Pepe el Romano) mencintanya (Angustias) sebagai seorang perempuan, tidak apa…..”

Di bawah kekangan otoritas Bernarda, semua anak-anaknya itu menyukai Pepe el Romano, termasuk juga Adela (anak bungsu), yang akan merayakan ulang tahunnya ke-20. Setiap hari mereka, seluruh anak Bernarda, selalu membicarakan Pepe, dengan nada yang nyinyir di depan Angustias. Akibat dari kekangan itu lah, drama ini seolah nampak seperti perebutan perempuan atas seorang lelaki, padahal hal itu hanya akibat dari kuasa Bernarda: monarki yang menguasai seisi rumah itu.

“Pepe El Romano adalah seorang ogre. Anda semua menginginkannya. Tapi dia akan memakanmu. Karena kamu adalah gandum. Tidak, bukan gandum. Katak lidah-kurang!”

Adela, si putri bungsu, sangat berambisi untuk bisa bersama Pepe; dan melawan larangan-larangan Bernarda. Secara diam-diam ia melakukan pertemuan dengan Pepe, peristiwa yang lalu diketahui oleh pembantu dan juga kakaknya, Martirio. Martirio yang juga diam-diam menyukai Pepe, mencuri foto Pepe dari kamar Angustias, untuk mengobati rasa rindunya. Peristiwa itu membuatnya bertengkar dengan Adela, perkara perasaannya masing-masing. Pencurian foto itu membuat Martirio menuduh seluruh saudaranya, dan pada saat itu lah, Bernarda, dengan kuasanya memaksa siapa pun yang mengambilnya untuk mengaku. Martirio akhirnya mengakuinya di hadapan semua saudara-saudaranya.

Pertengkaran ini bertahan hingga akhir cerita, ketika Adela diam-diam bertemu dengan Pepe, Martirio juga diam-diam melihatnya dan menyeret Adela dalam tengah malam. Kemudian semua penghuni rumah itu terbangun oleh suara teriakan Martirio yang mencoba memberitahu semua orang, bahwa Adela telah bertemu dengan Pepe secara diam-diam. Mengetahui itu, Bernarda langsung membawa senapan dan menembakannya ke arah luar, arah di mana Pepe berada. Sementara Adela mengira bahwa Pepe telah mati oleh peluru panas yang ditembakan oleh ibunya sendiri.

Adela mati gantung diri, setelah semua orang di rumah itu mengetahui dirinya sedang melakukan pertemuan dengan Pepe. Pertemuan yang akan membuatnya diseret keliling kampung dan dihukum atas tindakan melanggar norma, seperti cerita pada adegan di bagian sebelumnya, seorang perempuan muda tetangganya yang tertangkap membuang janin bayi. Kematian Adela bukan kematian patah hati terhadap kekasih, kematiannya merupakan ketakutan atas konsekuensi yang akan dia hadapi, akan lebih buruk ketimbang mati bunuh diri, dalam gantungan: merdeka dari kuasa Bernarda.

Sentuhan tragis dalam drama ini sama seperti kematian Lorca, dua bulan setelah dirinya menulis naskah ini, tepat pada awal Perang Saudara Spanyol, yang lebih tepat sesungguhnya disebut sebagai perang antara Rakyat Spanyol konservatif dan sosialis, di saat Spanyol masih berada di bawah rezim Jenderal Franco yang didukung kaum konservatif. Tahun-tahun yang digembar-gemborkan sebagai situasi yang represif, atas pengaruuh Katolik.

Homoseksualitas Lorca sendiri adalah masalah dalam konteks masyarakat Spanyol ketika itu yang secara umum memiliki cara pandang konservatif. Namun hal itu dipercaya sebagai sesuatu yang membantunya memahami keputusasaan, sekaligus cenderung memahami perasaan kaum perempuan yang berada dalam kelas kedua (di bawah laki-laki) dalam masyarakat Spanyol. 

Pada akhir drama, setelah siluet kematian Adela dan fakta bahwa bahwa peluru yang ditembakkan Bernarda nyatanya mengenai kuda Pepe, bukan Pepe, yang sudah lari seusai peluru itu ditembakkan. Bernarda memberi instruksinya pada Poncia:

“Anak perempuan saya meninggal sebagai perawan! Membawanya ke kamarnya dan mendandaninya sebagai seorang gadis, tidak ada yang berani mengucapkan sepatah kata pun. Dia meninggal sebagai perawan! Katakan kepada mereka (tetangga) untuk membunyikan bel dua kali pada waktu fajar ”

Sedemikian rupa, meskipun kehilangan anaknya, Bernarda tak pernah lebih peduli pada apapun selain apa yang dipikirkan tetangganya tentang dirinya: penjunjung tinggi norma, sekalipun ada neraka yang ia ciptakan di baliknya bagi orang sekitarnya. Neraka itu bernama norma. Norma yang dijunjung tinggi Bernarda Alba.

[ Pahrul Gunawan & Naufal ]

Related

Sejarah 9159282493596954094

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item