SKATEBOARD, DISKO DAN UPAYA MENJELMA AKU

Catatan Pertunjukan Teater ”Discopigs” (lakon karya Enda Walsh, terjemahan Heliana Sinaga)

Foto: Fajrin Alwi / Wartawan Magang Daunjati.

…harus benar-benar lari, harus pergi, tak ada main-main lagi, tak ada lagi luka, perpisahan memang menyakitkan, Dara sendirian, but it's oke, tapi mau kemana?

Begitulah Dara berujar di penghujung pertunjukan, setelah musik disko, meningalkan Celeng dengan papan skate di tangan. Disusul lagu “No Woman No Cry”-nya Bob Marley, lalu blackout.  Sepintas kehidupan Celeng dan Dara mengingatkan penonton pada yang lain seperti ‘Vladimir’ dan ‘Estragon’ yang tak berdaya bersama di kota babi, dengan perpisahan yang tak terbayangkan pula, menatap lampu kerlap kerlip, menatap langit malam yang tak berujung selepas mabuk dan lantai dansa; ‘Romeo’ dan ‘Juliet’ yang cintanya tumbuh diam-diam dalam dada, melihat dunia dari kacamata remaja 17 tahun, dari sebuah perayaan yang dijanjikan, lantas berakhir dengan perasaan tragis dan menyesakkan dada pula; atau duo-duo lainnya.  Dara (Indah) dan Celeng (Riki) di sini adalah dua remaja yang bertetangga saat lahir di rumah sakit yang sama dan tumbuh di balik dinding dalam dunia mereka  sendiri, mengisolasi diri, asosial, slengean, destruktif; persahabatan yang qudian dan epik, saling mengandalkan; dua remaja dengan skateboard yang membuat kegembiraan brutal malam hari di jalanan, di "..liang pantat kota yang busuk" (salah satu dialog Dara yang diulang beberapa kali).

“Discopigs” (1996) merupakan lakon yang penuh lonjakan psikologis dan pergumulan batin yang ditulis Enda Walsh. Paska runtuhnya tembok Berlin. Diterapkannya neolibrelisme di Iralndia yang melunturkan peran negara, mulai privatisasi sejak 1991 dan dijualnya perusahaan telekomunikasi terbesar milik negara yaitu Eircom. 30 tahun perang saudara di  Irlandia Utara, perang antara warga Irlandia Utara yang ingin berpisah dari Inggris dan bersatunya Irlandia dengan warga yang pro-Inggris. Lakon ini dipentaskan di Gedung Kesenian Dewi Asri, Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung (3/11) dalam Rangkaian Tugas Akhir Gelombang 2 Jurusan Teater dengan minat pemeranan bagi kedua aktor; Riki Dwi Mustopa dan Indah Dewi Rahayu.

Foto: Fajrin Alwi / Wartawan Magang Daunjati.
Pertunjukuan berawal dari seorang Disc Jokey (Rengganis), dengan baju dan topi hitam berdiri di belakang dinding ram kawat.  Musik menghentak, berdegup dan lampu kerlap-kerlip selama 3 menit.  Diskotik baru saja dimulai. Keluarlah Celeng dan Dara membawa mobil-mobilan ambulans dengan remote control, berlari mengitari panggung, berputar-putar.  Lalu kisah kelahiran melalui solilokui (monolog dalam konteks menceritakan kisah diri sendiri) “ngerobek memek nyokap” (dialog Celeng) di Rumah Sakit yang sama bagi keduanya, hanya beda beberapa menit. Lantas menjalani lagi usia mereka yang ke-17, solilokui lagi, dan menjalani usia mereka yang ke-17 lagi.  Plot campuran: mundur-maju-mundur-maju.  

Pergi ke disko dan minum-minum bir bagi remaja di kota babi Irlandia tentunya hal yang biasa. Apalagi negara tersebut merupakan penghasil bir hitam, di mana kedai-kedai bir menjamur hinga ke gang-gang kota, dari kedai tradisional hingga kedai modern. Begitu juga pergi ke diskotik merupakan idola remaja 90-an. Diskotik sendiri, pada era tersebut, telah menjamur di seluruh daratan Eropa hingga ke Amerika termasuk ke Indonesia. Disko, mulanya lahir sebagai kumpulan muda-mudi yang berkumpul di hari Minggu sambil memutar piringan hitam dan menari di Les Discotheque, sebuah basement club di Prancis. Masyarakat dalam kepunahan di bawah bayang-bayang fasisme dan perang dunia 2. Sebagaimana yang ditulis Peter Sapiro dalam “Turn the beat Around: The Secret History of Disco”, bahwa diputarnya piringan hitam untuk melawan propaganda musik kelasik-nya NAZI di Eropa. Sedangkan musik yang diputar dalam pertunjukan “Discopigs” oleh Ganda Swarna dan Juniansyah, bagi Dara dan Celeng dua remaja yang membawa skateboard ke mana-mana, cukup kuat dengan diputarnya musik-musik “Dance to our Disco”-nya Punk Jump Up, “Oblivion”-nya ‘Boston 168’, dan musik-musik ‘Physco Killer’. Meski tak membawa penonton pada situasi Eropa atau Irlandia yang khas. Setidaknya upaya mengarah ke sana sudah terlihat.


Pertunjukan "Discopigs" - 'Enda Walsh', Terjemahan: 'Heliana Sinaga'. Foto: Fajrin Alwi / Wartawan Magang Daunjati.

Riki Celeng dan Indah Dara telihat sangat energik dan gesit, dengan tempo yang cepat dalam situasi yang terus berganti-ganti. Meski tak seluruhnya gambaran pskilogis tokoh maupun situasi yang berkelindan di sekitarnya tak dapat terungkapkan. Malah lebih terlihat seperti remaja yang tak tahu apa-apa tentang dunianya. Namun, hal itu tidak terlalu menjadi soal, saya sendiri cukup menikmati sama halnya dengan penonton yang lain, yang kadang-kadang tertawa melihat beberapa tingkah laku kedua remaja kota babi Irlandia itu.

Foto: Fajrin Alwi / Wartawan Magang Daunjati.
“Kita akan jadi apa?”, ujar Dara, dan Celeng pun bilang "Terserah, mereka semua mau jadi apa, …Ya beginilah kita, hahaha”Mereka adalah remaja yang menelisik sejarah tubuhnya sendiri dari ingatan yang tumbuh, yang menyatakan dirinya sebagai King dan Queen atau dalam salah satu dialog Celeng 'debu dalam sebuah layar televisi'. Hingga pada akhirnya, mereka menemukan jalanya sendiri; berjalan sendiri-sendiri. Dan dengan cara itulah barangkali  mereka dapat menjelma aku, dengan ke-diriannya sediri-sendiri. Meski Dara dan Celeng selalu saja mengalami situasi lack. Perasaan merasa selalu ada yang kurang dan kehilangan atas segala hal.

 [John Heryanto / Wartawan Daunjati]

Related

Teater 143904184861715184

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item