SUDDENLY LAST SUMMER: MITOLOGI KEKERASAN DAN KENGERIAN HIDUP


Foto oleh Bagus Fallensky (Rumah Diskusi)

Sebastian Venable telah mati, ketika pertunjukan Suddenly Last Summer dimulai. Ia hidup dan mati berdasarkan cerita dari tokoh yang lain, begitu juga dengan reputasinya. Sebuah reputasi kematian penyair yang disaring melalui ingatan dari gagasan antagonis untuk kebenaran berdasarkan penuturan dari Ibu dan Sepupu.  Violet Venable (Christie Vaam Laloan) mengutarakan persoalan ‘artistik’ dari sosok  penyair, menjaga ingatan akan kesusastraan putranya, dan lebih jauh lagi melakukan kontrol ingatan orang lain akan putranya, termasuk kepada keluarga Sepupu.

Sedangkan Caterine Holly (Anita Nurjanah) terkait persoalan ‘etis’ dari Sebastian. Kisah dari dua pertentangan tokoh perempuan yang kontras, si kaya yang penyakitan dan si miskin yang terjebak. Sepintas melihat dua tokoh dalam pertunjukan ini,  kita akan teringat dua tokoh dalam The Bacchae-nya Euripides. Teks dari kedua tokohnya berupaya mendorong penonton pada pengalaman dionysian dalam lakon, bertemunya sisi naluriah dan sensualitas untuk merasakan hubungan antara manusia dengan binatang hingga berujung pada yang spiritual. Pengalaman dionysian dalam ketidakterbukaan masyarakat terhadap homoseksual dan sistem yang menindas, yang diumpakan seperti kanibal maupun lobotomy atau bedah otak; dengan merusak atau memotong sistem saraf bagi mereka yang dianggap tidak sesuai dengan aturan, semisal ingatan Caterine yang mengancam reputasi Venable sang borjuis yang berkuasa. Sehingga Sebastian memilih menjauhkan diri dari jangkauan publik untuk menyembunyikan seksualitasnya dari masyarakat. Dan Caterine yang mengalami trauma atas kekerasan yang  dialami, maupun kekerasan yang disaksikannya terhadap kematian sepupunya.

Konfrontasi dan pertentangan dalam mencari kebenaran atas kematian penyair dalam Suddenly Last Summer-nya Tennesse Williams (1911-1983) bergulir dengan perseteruan dan perjuangan yang berpangkal pada hal yang epistimologis: seberapa dekat dan memahami sosok Sebastian. Sekaligus menentukan apakah  Caterine dapat terbebas dan kembali hidup seperti biasanya.

Lakon ini dipentaskan dalam rangkaian Tugas Akhir Gelombang II Jurusan Teater, dengan Riyanti Wisnu, sang sutradara pertunjukan ini sebagai peserta ujiannya. Pertunjukan ini berlangsung di Gedung Kesenian Dewi Asri, Kampus ISBI Bandung (13/11).

"Dunia cahaya dan bayangannya” 

Begitulah Violet Venable berujar pada dr. Sugar (Kevin Geraldi) di kebun pekarangan rumah. Sebuah ungkapan yang metafisik, sekaligus melankolis. Menggambarkan rutinitas yang berulang dari kisah ibu dan anak di musim semi. Sisi lain dari telur-telur penyu dan burung hitam di pantai. Sebuah akhir yang artistik dari riwayat penyair, setidaknya untuk seorang ibu. Sebagaimana Nyonya Venable bilang: “Selalu tahu waktu yang tepat untuk kura-kura menetas …tapi burung hitam itu beterbangan di atas dan mencabik-cabik daging bayi yang baru lahir…. Ya, Sebastian mencari tuhan”.

Pada beberapa hal, sang ibu Violet Venable gagal memahami Sebastian terkait aktifitas seks Sebastian yang sesama jenis. Bagi Sebastian, kehadiran ibunya maupun Caterine, sepupunya, semata-mata untuk memikat pria muda, dan tentunya pria muda tersebut selanjutnya dinikmati oleh Sebastian dengan bayaran roti. Prilaku Sebastian yang memancing dan memangsa korban seksnya ini, diumpakan Caterine seperti 'titik hitam dalam menu'. Hal ini diketahui Caterine, setelah berpakain tipis dan memperlihatkan lekuk tubuhnya, sehingga laki-laki hitam menatapnya di siang bolong dan menemuinya di rumah makan.

Sedangkan dalam penuturan Caterine (setelah disuntik dr.Sugar) tentang kematian Sebastian: cerita dari pecahan-pecahan ingatan Caterina yang terisolasi dalam pengawasan suster dan petugas rumah sakit. Kisah akhir dari sang penyair ini cukup mengejutkan sang ibu. Sebastian “seperti bertemu tuhan, ketika pintu dibuka seluruhnya yang terlihat berwarna putih… para pemuda hitam melingkar memukul kaleng-kaleng, bunyinya menembus pagar kawat, dan Sebastian lari ke atas bukit. Di atas bukit itu lah tubuh Sebastian dicabik-cabik”

Melihat teks tersebut, kematiannya merupakan sesuatu yang sengaja dipilih Sebastian, sebagai sesuatu yang artistik. Bukan hanya fase simbolik dari Sebastian yang mencari cerminan setelah dari ibu lantas ke sepupu, dan berakhir di puisi. Tetapi juga sejenis mengorbankan diri sebagai ganti dari roti yang sulit didapat dan di tengah kelaparan yang mewabah di mana-mana. Sebuah akhir yang tragis, manusia memakan manusia. 

Bukankah “kita sudah bisa saling memakai dan menggunakan”? Begitulah Caterine berujar di satu adegan sebelumnya. 

Foto oleh Bagus Fallensky (Rumah Diskusi)

Kematian Sebastian yang kanibal seperti 'perangkap lalat venus', salah satu pohon yang diwujudkan di atas panggung oleh Eko Bambang Wisnu yang menjadi penata artistik dalam pertunjukan ini. Perangkap lalat venus yang terlihat mirip penis dengan ujung menganga penuh gigi. Bentuk pohon yang simbolik dan merepresentasikan pemangsa dari hasrat yang purba: sekaligus menjadi korban bagi yang lainnya seperti memakan sesama. Kematian yang serupa ‘episode penyu’, seperti cerita pertama Nyonya Venable tentang Sebastian kepada dr.Sugar.  

Teks-teks yang penuh metafor tentang pertanyaan arti hidup dalam Suddenly Last Summer-nya Tennesse Williams. Pertujukan ini hadir dalam suasana yang mengalun, sehingga membawa kesan pertunjukan yang monoton dan membosankan. Namun terlepas dari hal tersebut, pertunjukan ini telah mengajak penonton untuk menelisik kembali hakikat dari yang bernama manusia.

[ John Heryanto ]

Related

Teater 845473627671882075

Posting Komentar

emo-but-icon

Google+ Badge

Google+ Followers

Hot in week

item