DI BALIK TERPILIHNYA CALON TUNGGAL PRESIDEN BEM ISBI BANDUNG (3)

FOKUS PADA SOSOK BUKAN SOLUSI, TAPI MAKSIMALKAN PARTISIPASI KITA

Di jeda waktu menuju pemilihan presiden Badan Eksekutif Mahasiswa, para mahasiswa membuat sebuah lingkaran meneruskan apa yang telah di diskusikan saat sesi debat. Setelah ini, seluruh Organisasi Mahasiswa dengan 2 hak suara untuk tiap Himpunan dan 1 hak suara untuk tiap UKM, harus memilih: setuju atau tidak setuju mengangkat calon tunggal Muhamad Fikry Asropi.

Tio dari Arga Wilis membuka pembicaraan dengan pertanyaan: “Jadi gimana, kita sepakat untuk calon tunggal ini atau pemilihan ulang?”

Salah seorang mahasiswa menanggapi (Daunjati tidak sempat bertanya nama), “Kalau Fikry, dengan kondisi jiga kieu (seperti ini), apakah bakal ada perubahan atau terulang BEM bakal gini-gini aja?”. Mahasiswa lainnya menanggapi tanpa antri: “Tapi kalau kita pemilu ulang, ada nggak dari tiap Ormawa mencalonkan?”, “Diwajibin weh (diwajibkan saja) setiap Ormawa harus mengirimkan calon”, dan lain sebagainya.
Sampai akhirnya, Sandi yang juga hadir pada saat itu meminta waktu untuk menanggapi. Sandi memberi pertimbangan jika pemilu ulang diadakan tidak menjamin akan ada calon lain kalau tiap Organisasi Mahasiwa tidak punya komitmen untuk itu, karena batas pencalonan (presiden Badan Eksekutif Mahasiswa) ini pun sudah dilakukan sebulan yang lalu. Selain itu, menurut Sandi, Majelis Mahasiswa sendiri tidak menyanggupi jika harus memundurkan kembali pemilu karena terhambat oleh Musyawarah Kerja Bersama yang harus sudah diadakan awal April nanti.

Dari pertimbangan Sandi itu langsung ditanggapi Arif, mahasiswa jurusan Antropologi Budaya yang pernah menjadi Ketua RAMPES, menurutnya solusi untuk sementara adalah memilih Fikry. Dengan syarat, Fikry diberi waktu selama satu bulan untuk membentuk kepengurusan dan mematangkan program.
Tawaran Arif sempat membuat para mahasiswa berpikir, beberapa ada yang langsung setuju, lalu ada tanggapan dari salah seorang mahasiswa dari Keluarga Mahasiswa Teater mengenai tawaran Arif: “Kurang sepakat jika syaratnya membebankan hanya pada Fikry. Walaupun Fikry, misalnya terpilih jadi presiden, tapi fokus pada sosok bukan solusi. Dari awal sesi presentasi dan debat kita udah sama-sama tau kalau masalah partisipasi ini yang paling utama. Belum lagi kenyataan yang kita tau, kalau pencalonan Fikry hari ini pun tidak melalui dukungan (partisipasi) dari banyak mahasiswa. Himpunan RAMPES yang secara teknis mendelegasikan pun, nyatanya tidak ada dukungan secara organisasi, cuma sebatas tanda tangan setuju pencalonan Fikry”.

Dia melanjutkan, bahwa ia sepakat jika Badan Eksekutif Mahasiswa diberi waktu sebulan apapun nanti hasilnya. Jika hasilnya tidak setuju dengan calon tunggal Fikry, konsekuensinya adalah tetap pemilu ulang, mau tidak mau, dalam waktu kurang dari sebulan. Tapi jika hasilnya suara yang setuju Fikry menjadi presiden yang baru, syaratnya tidak fair kalau hanya membebankan pada Fikry, tapi untuk semua Organisasi Mahasiswa juga, karena tadi kita sepakat bahwa masalah Badan Eksekutif Mahasiswa bukan cuma masalah pengurusnya, tapi seluruh mahasiswa dan organisasinya. Bentuk beban untuk seluruh Organisasi Mahasiswanya, yang barusan, pembentukan kepengurusan dan pembentukan program Badan Eksekutif Mahasiswa, itu wajib jadi tanggung jawab seluruh Organisasi Mahasiswa. Jadi sebulan ke depan, kita akan mulai maksimalkan partisipasi kita.

Arif langsung menanggapi, “Saya sepakat kayak gitu”. Senada dengan Arif, Tio dan mayoritas yang lainnya juga sepakat, lalu forum informal itu bubar setelah ada tanda dari Majelis Mahasiswa sebagai panitia untuk memulai sesi pemilihan.

Sesi pemilihan dimulai hingga berakhir dengan skor 12 suara setuju si calon tunggal menjadi presiden, yang menghasilkan pada hari itu Muhamad Fikry Asropi terpilih menjadi presiden Badan Eksekutif Mahasiswa ISBI Bandung 2019.

Di akhir acara, Daunjati sempat mewawancarai Sandiawan terkait penyelenggaraan pemilu presiden Badan Eksekutif Mahasiswa tahun ini. Menurutnya, partisipasi mahasiswa dalam acara presentasi dan debat (visi misi calon) tahun ini masih sangat kurang, dibanding jumlah keseluruhan mahasiswa anggota Badan Eksekutif Mahasiswa dan anggota Organisasi Mahasiswanya.

Saat ditanya soal adakah wacana perubahan mekanisme pemilihan  yang sistemnya perwakilan ke sistem pemilihan umum, Sandi menjawab itu mekanisme yang disetujui dalam Musyawarah Besar terakhir.

“Memang sempat ada wacana pemilihan umum, dua tahun lalu kalau tidak salah, tapi tidak jadi, saya kurang tau persis alasannya. Tapi kalau ditanya apakah ada wacana perubahan mekanisme ke pemilihan umum, kalau itu jadi manfaat untuk meningkatkan partisipasi mahasiswa dalam organisasi, mungkin bisa ditanyakan nanti ke pengurus Majelis Mahasiswa yang baru. Pertengahan bulan ini (Maret) pembentukannya” ujar Sandi.

Selain Sandi, Daunjati juga sempat mewawancarai Fikry, presiden Badan Eksekutif Mahasiswa terpilih, berikut kutipan hasil wawancaranya mengenai kepemimpinan Fikry setahun ke depan:

“Soal partisipasi Ormawa seluas-luasnya untuk pembentukan kepengurusan dan pembuatan program, ya, saya sebenarnya masih belum sepakat karena khawatir repot. Mungkin lebih efisien kalau kepengurusan dibentuk, lalu pengurus membuat program, dan pengurus mensosialisasikan program”.

Ketika Daunjati bertanya mengenai kesepakatan mahasiswa yang juga perwakilan dari Himpunan dan Unit Kegiatan Mahasiswa sudah sepakat akan melibatkan diri dalam kepengurusan dan proses pembentukan program, jawaban Fikry ketika itu, baginya proses seperti itu dikhawatirkan akan merepotkan.

“Kalau yang itu sepertinya tunggu sosialisasi saja ketika kepengurusan jadi dan sudah membentuk program. Tapi di luar itu, saya juga ingin BEM tahun ini bisa dekat dengan semua Organisasi Mahasiswa. Saya akan buat kotak apresiasi yang dipasang di depan Sekretariat. Semua mahasiswa bisa kasih kritik dan saran”, tutup Fikry, sekaligus menutup pembicaraan dengan Daunjati malam itu.



[reporter: Teguh, Ridwan, Naufal]

________________________________________________________________________

*saat berita ini dimuat, telah ada pergantian ketua dan kepengurusan Majelis Mahasiswa periode 2019 (Joshua, delegasi dari Keluarga Mahasiswa Teater adalah Ketua MM baru)

Related

Persatuan 932915250117430928

Posting Komentar

emo-but-icon

Hot in week

item