DISKUSI DI UIN BANDUNG TENTANG POSISI MAHASISWA DI TAHUN POLITIK

Kamis 21 Maret 2019, bertempat di Aula Student Centre kampus UIN Sunan Gunung Djati Bandung, Unit Kegiatan Mahasiswa Lembaga Pengkajian Ilmu Keislaman (UKM LPIK), mengadakan diskusi yang bertema: Jalan Panas Politik Mahasiswa Di Pilpres 2019. Dengan tiga pemantik diskusi: RR Ina Wiyandiri (Ketua Gerakan Muslimat Indonesia Jawa Barat), Bilven Sandalista (Koordinator Ultimus), Deni Ahmad Haidar (Ketua GP Ansor Jawa Barat) dengan dimoderatori oleh Fikry Azhar Fuaddilah (Ketua Hima Persis UIN Bandung).

Diskusi yang dimulai pada pukul 14.00 WIB itu, dihadiri oleh mahasiswa anggota UKM LPIK dan mahasiswa UIN secara umum. Diskusi berjalan dengan meriah, para mahasiswa peserta diskusi aktif, suasa diskusi ramai oleh suara tertawa dan teriakan-teriakan menanggapi pemateri tiap pemateri.

Wawancara dengan Ketua Pelaksana Acara

Diadakannya diskusi tersebut, UKM LPIK bertujuan untuk mencari posisi mahasiswa di tahun politik, bagaimana sikap dan tanggung jawab mahasiswa dalam politik yang tengah bergejolak ini. Mahasiswa harusnya ikut andil dan meninjau rezim yang tengah bercokol di kursi kekuasaan, ataupun yang akan memegang kekuasaan nantinya, ujar Taufik, Ketua Pelaksana Acara.

Itu harus senantiasa diperhatikan dan dikaji dengan serius. Inti dari tema diskusi tersebut. Mahasiswa bukan hanya diharuskan fokus dalam mendapat nilai IPK lebih tinggi, tetapi harus ikut andil besar dalam kemajuan bangsa dan negara. Salah satunya menggalang demokrasi  seluas-luasnya dan berkontak dengan masyarakat lebih luas, bukan hanya berdiam diri dengan buku-buku lalu berdebat di dalam kelas dan rakyat kembali dimiskinkan dan dizolimi kembali”, lanjut Taufik.

Tambahnya lagi, dengan cara diskusi, dan budaya literasi menjadi solusi untuk membangun ruang lebih luas untuk memperhatikan politik.  Apakah akan sama seperti sebelumnya atau berubah. Perubahan yang akan terjadi bisa saja baik ataupun buruk, tergantung yang kita lakukan sekarang. Maka dari itu UKM LPIK menggalang diskusi untuk membicarakan dan mengkaji bagaimana dan siapa yang lebih pantas memimpin dan mampu mawakili rakyat, jangan-jangan dari pilihan yang ada memang golput jadi solusinya?

Diskusi adalah wadah untuk menghimpun segala problematika, dangan cara dialog dan mengeluarkan semua yang membuat bingung dengan cara terbuka dalam berbicara. Namun, seringkali diskusi yang dilaksakan sangat ekslusif dan terjadi pembatasan, tidak semua kalangan dapat mengikuti diskusi karena beberapa alasan, status sosial dan pekerjaan misalnya. Mahasiswa yang mengaku diri sebagai agen perubahan tidak semestinya membuat diskusi dengan membatasi individu atau kelompok yang akan hadir menjadi peserta diskusi. Mahasiswa harus membuat ruang terbuka untuk semua kalangan guna menghimpun segala aspirasi dan kritik. Saya dan kawan-kawan ingin membuat diskusi yang terbuka untuk publik luas.

Pemantik Diskusi Malah Promosi Paslon

Diskusi yang diadakan di Aula Student Centre itu tidak berjalan dengan harapan panitia, banyak menyeleweng obrolan keluar dari tema diskusi dan menjurus ke arah kampanye. Adapun capaian yang tengah tercapai di mana peserta diskusi membeludak dan aktif meskipun dari ranah mahasiswa saja. Tetapi panitia menyesalkan sekali akan sikap RR Ina Wiyandiri, salah satu pemantik, banyak sekali yang melebar dan merujuk kearah promosi dari pasangan calon presiden no urut dua. Perempuan tersebut tidak banyak menjawab keresahan mahasiswa, atau memecahkan persoalan tentang posisi mahasiswa di tahun politik ini, banyak sekali jawaban yang keluar dari mulutnya kabur dan keluar konteks. Seperti pertanyaan salah satu mahasiswa soal apa yang harus dilakukan saat hari pemilihan dan setelah pemilihan, Ina menjawabnya dengan  “pokoknya tanggal 17 April 2019 nanti harus datang ke TPS! Bukan, bukan TPS tempat pemungutan suara, tetapi tusuk prabowo sandi”.  Jauh sebelum dimulainya sesi tanya jawab pun, dirinya banyak menyatakan berbagai promosi pasangan calon presiden nomor urut dua. “Prabowo adalah anak dari mentri keuangan, sudah pasti jujur”, “IQ Prabowo mendekati Einstein”, dan berbagai kalimat yang keluar dari mulutnya yang sangat kabur dan tidak rasional. 

Membuat peserta diskusi diam sekejap, kemudian ramai kembali dengan menertawakan. Dampaknya, banyak  peserta diskusi pindah dari tempat kursi depan ke arah belakang, terlihat dari kosongnya barisan kursi depan, dan menumpuk di kursi belakang. Hanya sekedar berbisik-bisik atau berteriak-riak.


Golput adalah Hak

Selain itu, hadir pula seorang pemantik yang menyatakan diri akan golput di pemilu kali ini. Bilven, banyak menjelaskan soal golput sebagai hak, bagaimana hukum tidak bisa memidanakan orang yang golput, sampai kepada beberapa contoh golput yang menurutnya hal yang salah ketika golput dianggap sesuatu yang baru. Bagi Bilven, mengkampanyekan golput sama haknya dengan mengkampanyekan memilih kubu satu dan kubu dua.

Tidak memilih pun adalah suatu hak, bukan karena bentuk frustasi melainkan sikap politik untuk mengutaran ketidakpercayaan terhadap pasangan calon yang akan dipilih di bulan April nanti, kalimat penutup pemaparannya.

Harapan dari UKM LPIK tersebut, diharap mahasiswa dapat diskusi mengenai politik lebih luas lagi, bukan hanya dari ranah kampus melainkan meluas sampai desa maupun kota, ujar Taufik, ketika ditanyai harapan untuk ke depannya. Banyak sekali mahasiswa hanya membuat dan menyelenggarakan diskusi dalam lingkup akademik saja, dan tidak meluas atau terbuka untuk umum (hanya bidangnya saja),  mahasiswa yang mempunyai lebih banyak waktu luang dari pada kelas pekerja, harusnya menyediakan ruang untuk rakyat miskin, kelas pekerja, dan masyarakat umum, guna mendorong kecerdasan masyarakat itu sendiri. Belajar bersama untuk berdialog tentang politik di hari dewasa ini, bagaimana rakyat tersisih dan bertengkar akibat dari hasil pemilu tersebut.



daunjati/Ridwan

Related

UIN Bandung 6945599412759507257

Posting Komentar

emo-but-icon

Hot in week

item