RACHMAN SABUR: "KITA HARUS BIASAKAN MUSYAWARAH, KAMPUS INI BUKAN MILIK SATU DUA TANGAN SAJA"


(sumber: www.powerofculture.nl)

Tulisan ini merupakan transkrip wawancara Daunjati bersama Babeh Rachman Sabur yang kami lakukan di Ruang Kantor Jurusan Teater, Fakultas Seni Pertunjukan, ISBI Bandung (15/3). 

Wawancara itu dilakukan setelah terpampangnya dua buah baligho di depan Gedung Jurusan Teater secara berturut-turut pada tanggal 4 dan 12 Maret 2019. Pada siang hari itu, sekitar pukul 14.00 WIB, Babeh, biasa ia disapa, bercerita kalau dirinya sengaja datang ke kampus untuk melakukan wawancara dengan Daunjati. Dengan rokok kretek merk dji sam soe yang dihisapnya, wawancara Daunjati dimulai. Berikut transkrip lengkapnya.

Apa pesan yang ingin Babeh sampaikan melalui baligho tersebut?

Pertama, baligho yang saya naikkan merupakan inisiatif saya sendiri. Ya, tentu saja, itu bahasa seni, “dikebiri“dikerdilkandigergaji”, yang memang (juga) bahasa penindasan. Ini sehubungan (dengan) kredibilitas saya sebagai pengajar. Saya mempertayakan dari apa yang terjadi, bahwa di kampus ini , ada (jenjang studi) Pascasarjana, membuka S2, yang notabene pengajar semuanya adalah berlatar belakang orang-orang pengkajian, atau doktor-doktor kajian. Sementara di situ (jenjang pascasarjana), juga ada mahasiswa yang mengambil (peminatan) penciptaan. Ini kan tidak fair, mahasiswa  penciptaan itu membutuhkan ilmu yang sesuai dengan yang dibutuhkan. Kompetensinya adalah kompetensi penciptaan.



(dokumentasi LPM Daunjati)
(dokumentasi LPM Daunjati)



Siapa yang menjadi sasaran dalam pesan baligho tersebut?

Saya hampir dua tahun ini menunggu, saya diminta untuk menunggu (dijadikan pengajar di Pascasarjana). Tapi kan, tidak pernah muncul omongan seperti itu. Yang saya mau pertanyakan, kenapa terjadi seperti itu? Kalau (studi) Pascasarjana (ISBI Bandung) memang hanya pengkajian saja (peminatannya), saya tidak punya dasar mempertayakan itu. Tapi ketika (kenyataannya) ada yang mengambil (peminatan) peciptaan, saya punya dasar. Karena di satu sisi, saya  juga butuh karir akademik pribadi. Saya butuh kumulatif dari karir akademik saya. Karena saya pegang ijazah S3, ya logikanya saya harus mengajar S2. Tapi kenyataannya tidak. Ya ini aneh.

Bagaimana proses sampai terjadinya keputusan memasang baligho?

Sebelum baligho yang pertama saya naikan, seminggu sebelum itu saya bicara baik-baik dengan rektor. Saya mempertanyakan soal masalah-masalah yang tadi saya ceritakan. Tapi, selama seminggu itu juga tidak ada follow up-nya apa yang saya sampaikan pada rektor. Karena bagaimana pun, direktur Pascasarjana ada (secara hirarki) di bawah rektor, saya tidak ada urusan dengan direktur Pascasarjananya, yang saya tanyakan langsung pucuk pimpinannya. Ini ada apa? Kok, bisa begini? Karena yang saya rasakan saya dirugikan. Saya yang seharusnya mendapatkan kumulatif mengajar di Pascasarjana, tapi ini tidak. Saya tidak pernah diberikan ruang untuk itu. Memang, saya pernah dua kali menguji proposal (mahasiswa Pascasarjana), menguji ujian akhir (mahasiswa Pascasarjana),  ya, tapi maaf-maaf, kalau menguji saja, semua orang juga bisa menguji, tidak perlu sekolah. Tapi yang saya inginkan, saya ingin berbagi  (atas) apa yang saya dapatkan selama ini. Saya mencoba untuk mengetuk pintu hati mereka (lewat baligho tersebut). Masa seperti itu? Sampai-sampai saya sampai berpikiran yang tidak-tidak . Ya, yang tidak-tidak itu (seperti) jangan-jangan saya diganjal? Kalau diganjal, itu persoalannya apa?

Sebenarnya, awal mula persoalannya berarti kapan, sampai Babeh bersikap seperti sekarang?

Saya punya ijazah S3, saya (mengambil studi) penciptaan seni, dan saya lulus cumlaude. Saya mendapatkan penghargaan terbaik dari lulusan waktu itu. Ini yang menurut saya, bagaimanapun, baik orang-orang (di struktur) Pascasarjana (ISBI Bandung) maupun (di struktur) S1 (ISBI Bandung), semuanya harus berdasar (pada) keseimbangan. Kita mau jadi peneliti semua? Sedangkan, ada mahasiswa yang mengambil (peminatan) penciptaan seni. Mereka juga punya hak (mendapat pengetahuan di minatnya)para mahasiswa itu bayar, tidak ada yang gratis.

Mereka (mahasiswa Pascasarjana dengan minat penciptaan seni) punya hak untuk diberikan ilmunya sesuai dengan kebutuhan mereka, sesuai dengan kompetensi mereka di wilayah penciptaan seni. Kalau yang diberikan dasarnya (dari) pemikiran orang-orang kajian (pengajar dengan latar belakang studi pengkajian), itu pasti tidak lepas dari landasan teori, padahal yang dibutuhkan mahasiswa Pascasarjana (studi) penciptaan seni bukan seperti itu. Ini menurut saya melenceng, kalau ini tidak diingatkan, dibiarkan begitu saja, ini merupakan pengingkaran terhadap prinsip akademik.


(dokumentasi LPM Daunjati)


Kalau boleh tau, apa alasan Babeh menyampaikan sikap memakai baligho?

Ya itu bentuk sikap protes saya kepada rektor. Saya bilang, saya sudah dua tahun tidak dilibatkan untuk mengajar (di Pascasarjana). “Teman saya, Yusril dari ISI Padangpanjangdua minggu setelah mendapatkan ijazah (S3), dia tidak perlu meminta, malah langsung disuruh untuk mengajar (di Pascasarjana kampus ISI Padangpanjang), saya sampaikan itu ke rektor. Tanggapan dari rektor sendiri, bahwa katanya di Pascasarjana ada kelemahan dan kekurangan. Rektor bilang bahwa akan ada pembicaraan dulu dengan direkturnyaLalu, saya pikir kalau seminggu itu tidak dibicarakan, tidak ada tanggapan dari rektor mengenai omongan saya, berarti kan omongan saya tidak dianggap penting? Reaksi saya memutuskan, untuk membuat puisi baligho itu, apa yang saya sampaikan di dalam isi baligho itu tentu bentuk (saya) melawan kesewenang-wenangan penguasa. Karena ini tidak benar. Di satu sisi, kita selalu mengatakan harus sesuai dengan kompetensi” atau “memberikan ilmu sesuai dengan bidang keilmuan kita”, tapi di satu sisi (lain) juga kita melabrak itu. Saya (selama ini) tidak pernah mengintervensi wilayah di luar (studi) penciptaan. Tapi, kenapa orang-orang (pengajar) kajian (malah) begitu semena-mena dan bebas sekali ada di wilayah (studi) pengkajian dan (studi) penciptaan.

Okelah, kalau mereka berada di wilayah kajian, saya tidak mempermasalahkan itu tetapi kalau mereka masuk ke wilayah penciptaan saya tidak terima. Sementara saya kuliah (sampai S3) dengan susah payah, pakai uang saya sendiri, sementara mereka kan tidak begitu, dan saya rasa itu tidak adil.

Kalau soal baligho yang terbaru ini bisa dijelaskan nggak, Beh, kan itu kami lihat ada dosen lain juga yang mencantumkan namanya dalam baligho, itu apa sebenarnya pesannya?

Baligho yang kedua ini merupakan respon dari teman-teman (pengajar) yang lain, (mereka) melihat bahwa ada persoalan-persoalan lain yang perlu juga disampaikan (pada rektor dan jajarannya). Termasuk juga, tenaga pendidik, ya khususnya mahasiswa Pascasarjana, mahasiswa (studi) penciptaan seni. Akhirnya apa yang saya sampaikan baligho pertama, berlanjut lah pada baligho yang kedua ini. Dan yang kedua merupakan dasar pemikiran kolektif. Kita merasa bahwa ada sesuatu yang memang membuat kita jadi resah. Baligho kedua naik pada hari Selasa (12 Maret 2019) malam hari, (karena) harusnya (hari itu) ada pertemuan dengan rektor dan jajarannya, tapi pertemuan itu gagal. Makanya munculah baligho yang kedua itu, kita menyesali kenapa tidak ada pertemuan. Kita butuh ada pertemuan dengan pucuk pimpinan (rektor), bukan berarti wakil-wakil rektor itu tidak penting, tapi yang utama harus ada pucuk pimpinan (rektor). Kita melihat, ada keganjilan, ada isu di luar, ini itu, segala macamnyalah. Ya, (tapi) itu persoalan di luar. Kita harus duduk bersama, ngobrol besama, bahwa kita ada persoalan, bahwa lembaga (rektor dan jajarannya) harus memberikan verifikasi.

Apa sudah ada hasilnya setelah pemasangan baligho terbaru ini?

Kita (pengajar-pengajar Jurusan Teater) akan mengadakan pertemuan (dengan rektor dan jajarannya) hari Selasa depan (19 Maret 2019). Mereka (rektor dan jajarannya) yang mengundang kita, dan pertemuannya tertutup.

Kita ingin mengadakan pertemuan, (karena) ingin semua ini cepat selesai. Kita ini ingin memperbaiki. Kalau kita ada musyawarah, maka tidak (akan) terjadi seperti ini. Saran saya nanti untuk pertemuan Selasa depan, kalau lembaga Pascasarjana (ISBI Bandung) tidak mau menerima yang (me)ngajar dengan latar belakang penciptaan, ya (lembaga) Pascasarjana (ISBI Bandung) menerima mahasisiswa studi pengkajian saja. Tidak usah menerima (mahasiswa) yang ingin (studi) penciptaan. Itu lebih fair.

Saya tidak boleh mengajar di sini dasarnya apa? Sementara teman saya, dua minggu dapat ijazah diminta mengajar, bukan mengusulkan. Kampus ISBI Bandung ini bukan cuma milik satu dua tangan saja, tapi milik semua. Artinya, bukan milik segelintir yang berkuasa, makanya kita harus membiasakan musyawarah untuk segalanya, agar fair.



[reporter: Noor Shidiq]

_________________________________________________________________________________

* Rachman Saleh atau yang lebih dikenal sebagai Rachman Sabur adalah dosen di Jurusan Teater, kampus ISBI Bandung. Babeh, panggilan akrabnya, selain seorang dosen juga merupakan seniman teater yang masih aktif berkarya hingga hari ini, bersama kelompok Teater Payung Hitam. Selain itu, dalam karir akademik Babeh adalah seorang dokter, S3-nya ia selesaikan pada tahun 2017, melalui disertasi Tubuhku Ingin Menjelma Menjadi Padi yang Merunduk yang dipertunjukan di sebuah lokasi di Ciwidey, Bandung.

* Proses pencarian informasi tentang hasil pertemuan antara 15 pengajar Jurusan Teater dengan pihak rektorat pada 19 Maret 2019 masih dalam proses.

Related

Teater 942264312429209359

Posting Komentar

emo-but-icon

Hot in week

item