REALISME AMAT JAGA DAN TUBUH ANOMALI DARI HILANGNYA RUANG

John Heryanto

Dan koinpun dilempar ke udara oleh kepala desa, sebagai cara memilih mandor pabrik dari dua pemuda bernama Amat di suatu kampung. Begitulah gimmik pertunjukan ‘Amat Jaga’ selepas dendang puja-puji pada Dewi Sri dilantunkan oleh semua warga kampung saat panen.

Tak ada satupun warga yang mengira sejak koin itu dilempar, ruang hidup warga hari esok juga dipertaruhkan. Di hari itu pula pemerintah yang diwakili oleh kepala desa telah menjadi kepanjangan tangan pemodal. Pabrik pun berdiri dan satu-satu petani kehilangan sawah dan ladangnya hingga pergi ke kota mencari kerja. Dan kedua pemuda bernama Amat pun mati di jalannya sendiri-sendiri yang tokoh wartawan sebut diadegan akhir sebagai “cinta segitiga berdarah”.

Begitulah kiranya gambaran singkat kisah ‘Amat Jaga’ yang dipentaskan oleh Zona D (Teater Awal UIN Bandung, GSTTF UNPAD, dan Dapur Seni UPI Cibiru) pada hari ke tiga rangkaian “Hari Teater Dunia 2019”  yang disenggarakan oleh Keluarga Mahasiwa Teater (KMT) ISBI Bandung (10-12 April 2019). Pertunjukan tersebut berlangung di GK Dewi Asri (12/4/19) selama delapan puluh menit.

Pertunjukan 'Amat Jaga' Naskah: Saini KM, Sutradara: Hilman Kerod. Foto: John Heryanto.

‘Amat Jaga’-
nya Saini KM yang ditulis pada tahun 1985, setelah menulis naskah ‘Ken Arok’ (1985) dan sebelum ‘Madegel’ (1986). Naskah ‘Ken Arok’ dan ‘Amat Jaga’ ditulis berbarengan dengan menguatnya tekanan pemeritah kepada kaum oposisi.

Hal ini ditandai dengan terbitnya berbagai peraturan pada tahun tersebut semisal: UU No 1 tentang Pemilu, UU No 2 tentang Partai Politik dan Golongan Karya, UU No 8 tentang Organisasi Kemasyarakatan, dan UU No 2 tentang susunan dan kedudukan anggota MPR, DPR, DPRD yang kemudian disempurnakan pada tahun 1995.

Pada tahun 1985 itu merupakan tahun kedua dari ‘Repelita VI’. Sebagai lanjutan dari kebijakan yang telah diterapkan sebelumnya dari ‘Trilogi Pembanguan’ yang digalakan Orde Baru untuk pembagunan nasional, sejak Soeharto berkuasa. ‘Repelita’ sendiri diluncurkan sebagai usaha perluasan, peningkatan ekonomi lewat pembangunan industri di atas pertanian.

Bila melihat kisah dan peristiwa dalam naskah ‘Amat Jaga’-nya Saini KM dan situasi ekonomi dan politik di tahun 1985. Keduanya memiliki kesamaan, serupa kembaran dari realitas. ‘Amat Jaga’ lahir dari penomena kemanuisaan sebagai cermin sekaligus protagonis, dan diujung semua problematik yang membentang. Sebuah ironi pembangunan.

Bila melihat tema yang diusung dalam ‘Hari Teater Dunia’-nya KMT yaitu ‘Menjaga Proses’ dengan berpegang pada realisme sebagai pilihan gaya estetik. Maka ‘Amat Jagat’ merupakan pilihan yang tepat dan pantas.

Teks ‘Amat Jaga’ ditulis oleh Saini KM, seseorang yang dikenal merawat proses dan regenerasi sastra dan teater, khusunya di Jawa Barat. lewat ‘Pertemuan kecil’ dan salah satu orang yang telah berjasa mendirikan Jurusan Teater dan ISBI Bandung.

Secara kisah ‘Amat Jaga’ memiliki singgungan dengan tumbuhnya industri dan pertentangan antara nilai-nilai tradisi atau yang lalu dan modern. Sedikit banyaknya memiliki kesamaan dan persinggungan dengan sejarah dan kelahiran realisme itu sendiri, sama-sama lahir ketika industri digalakan, banyak berpindahnya orang-orang ke kota dan gaya yang lahir dari seniman-seniman yang hidup pada permulan modern di Eropa sana.

Namun tentunya realisme Indonesia mesti pula dibaca sebagai sesuatu yang diadopsi dan terinpiltrasi dari Eropa, yang dimulai dengan diterjemahkan naskah-sakah barat, dan berdirinya kampus-kampus seni semisal ATNI dan ASDRAFI, dan di Bandung ditandai dengan lahirnya Studiklub Teater Bandung. Serta menemukan momuntumnya ketika diterapkannya demokrasi liberal tahun 50-an.

Realisme-nya ‘Amat Jaga’ tentunya tidaklah seperti Ibsen, Chekov, dan Stenberg yang menggunakan hipotesis bahawa kehidupan kolektiv merupakan sarang kepalsuan sehingga munculah individu-individu yang memberontak. ‘Amat jaga’ justru sebaliknya, ia mencoba mengembalikan kehidupan yang individu ke kolektiv sebagaimana keyakinan etik orang sunda: ‘hade ka dulur, hade kabatur, jaga lembur dan panjeg dina galur’. Sebagaimana yang berkali-kali dikatakan Amat kepada warga kampung yang hendak pergi ke kota ’urbanisasi’, kepada warga kampung yang telah kehilangan lahan garap dan pencariannya bahwa: “kita semua berhak hidup dan tinggal disini, mari bersama-sama kita bangun kembali seperti dulu mengolah lahan bersama”. Ketika nilai-nalai terdahulu dilupakan, tapi yang modern belum memiliki kepastian hari esok. Bertemunya yang tradisi dengan modern menjadi proses dialektis  sebagai upaya untuk  menemukan gambaran  dari dunia yang ideal. Dunia yang baru dimana tradisi dan kebudayaan bukan lagi sebagai yang agung, tak tersentuh dan isolasi. Dunia yang disusun dari berbagai pertemuan, dimana tradisi sebagai landasan untuk kebaharuan, yang senantiasa ditimbang dan ditelisik ulang.

‘Amat Jaga’ ini dipentaskan oleh kelompok teater kampus yang setia pada proses dan bentuk pemanggungan realism. Teater Awal dan GSSTF UNDAP sejak kelahirannya ditahun 80 dan 90-an hingga kini sering mementaskan naskah dan bentuk-bentuk pemanggugan realis. Begitu juga dengan Dapur Seni UPI Cibiru yang lahir di Tahun 2012.

Bagi Teater Awal khsusunya, pertunjukan yang disutradarai Hilman Kerod ini. Merupakan bagian dari ‘Studi Panggung’ yang diadakan untuk semua anggota baru mengaplikasikan pemahaman teater yang didapat selama proses open recruitment.

Pertunjukan 'Amat Jaga'. Naskah: Saini KM. Sutradara: Hilman Kerod. Foto: John Heryanto

:pergeseran, kutukan dan anomali dari kehilangan ruang

“jika kita tidak memuliakan, maka kutukan dewi sri akan datang” Begitulah si nenek berujar saat upacara Dewi Sri kepada warga kampung ketika pertunjukan dimulai. Di akhir pertunjukan ketika pemuda bernama Amat mati secara tragis. Amat yang menjadi mandor mati dibunuh oleh amat yang menolak pabrik, dan amat yang menolak pabrik mati ditembak polisi setelah membakar pabrik dan membunuh Amat mandor. Dan pemodal masih bercokol membuat pabrik lagi. ‘Kutukan’ itu datang dan tak dapat dicegah maupun ditunda sejak pemodal masuk ke kampung, sejak pertunjukan dimulai saat upacara Dewi Sri dan dilemparnya koin oleh kepala desa. Dan ‘kutukan’ yang diramalkan itu bernama kapitalisme.

Sebuah plot yang khas Aristotelian, dengan hadirnya prolog masalah, resolusi, klimak hingga kemudian konklusi lah yang memberitahukan jalan utama pikiran naskah dan pertujukan. Dengan alur cerita yang linear, perlahan-lahan setiap adegan menemukan inti-inti dari masalah hingga ke akhir.

Persoalan relasi manusia dengan menusia lain dan alam. Nampaknya menjadi sentral episteme yang tak pernah usang untuk dibicarakan dalam berbagai ranah diskursus hingga kini. Semisal pentetangaan kelas, soal-soal agria, hak asasi manusia, dan lain-lain..

Munculnya pabrik di kampung yang meyebabkan pencemaran lingkungan dan tidak suburnya pertanian warga sehingga panen gagal. Karena bertani tidak lagi menguntungkan maka tanah tersebut dijual ke pemilik pabrik dan pabrik jadi luas. Dari hilangnya lahan garap di kampung, petani yang pada mula berkeja untuk dirinya kemudian bekerja untuk orang lain. Yang dulunya di kampung pergi ke kota. Bayaknya pencari kerja menjadi salah satu penyebab upah murah selain alat produksi yang didukung dengan berbagai penemuan teknologi mutakhir.  

Amat yang menolak adanya pabrik di kampung, bukanlah siapa-siapa maupun tokoh penting semisal pangeran atau para raja dalam tragedi. Tapi juga tidak lantas menyat-nyayat namun paradoks dan konyol. Ia mengira bahwa semua warga yang kehilangan tanahnya, sengaja mereka jual dan pergi ke kota. Merupakan orang-orang yang pelu ditolong dan disadarkan. Namun tidak semua orang merasa atau membutuhkan pertolongan justru menikmati hal tersebut, mengejar hasrat yang tak terpuaskan ,terjebak dalam lingkaran simulakra, menikmati setiap moment konsumerisme dan kapitalisme seperti adegan pemuda yang mejual tanahnya dengan bangga dan dibelikan untuk kebutuhan berdandan dan radio sebagai hiburan, lantas pergi ke kota untuk memuhi hasrat yang lainnya. Seperti pula amat yang jadi mandor dan para pekerja ia dengan sadar memilih dan menikmati moment-moment dimana lagu-lagu terus bedendang di telinga dalam handset, jalan-jalan dan lain-lain.

Amat yang menolak pabrik ini, selanjutnya menjadi ironi dengan mengadu kepada tuhan. Dan ia sendiri tahu bahwa tuhan tidaklah bisa menjawab pertanyaan sebab yang paling nyata ialah interaksi dirinya dengan sesama manusia dan alam yang tidak sekedar memenuhi kehidupannya layaknya binatang. Adegan monolog ini tampil dengan penuh ironi, teks-teks yang meledak-ledak hingga kemudian berakhir pada sebuah pertanyaan pada penonton: “Jika Kau diam, maka aku harus mengambil sikap” sambil mengacungkan kampak ke langit. Pada titik inilah, momen reflektif bagi penonton hadir. sebab industri, pabrik, pengrusakan alam, kapitalisme begitu masif dalam sehari-hari dan bergelindan. Disini pula jiwa penonton disucikan.

Adegan selanjutnya amat yang menolak pabrik melakukan aksi sporadis dengan membakar pabrik dan membunuh para buruh. Ia pun kemudian ditembak polisi dan mati sebagai seorang kriminal. Sebuah akhir yang konyol dan tak merubah apa-apa setidaknya apa yang ia cita-citakan. Perjuangannya serupa bunuh diri, ia mahluk anomali yang lahir dari bergesernya nilai-nilai dan hilangnya ruang. Amat bisa jadi siapa saja dalam kehidupan ini ketika segalanya telah berubah dari yang dibayangkan sebelumnya dalam hidup ini, ia adalah martir.  

John Heryanto, Pengamat Seni Pertunjukan

Related

Teater 489396193428080810

Posting Komentar

emo-but-icon

Hot in week

item