TIDURLAH TOKYO: IMAJINASI KAKAK BERADIK TENTANG KEHIDUPAN DI TOKYO

Senin lalu, berlangsung sebuah pertunjukan “Tidurlah Tokyo” karya JUICHIRO TAKEUCHI, di Studio Teater ISBI Bandung yang di sutradarai oleh Nur Anisa. (1/4)

Foto oleh Agung (Dokumentasi Tidurlah Tokyo)
 

Ketika memasuki gedung pertunjukan imajinasi penonton digiring dengan suasana panggung yang menegangkan. Panggung yang digambarkan berlatar di sebuah gudang, tetapi disulap menjadi sebuah kamar yang begitu kumuh.

Suasana menegangkan bertambah ketika Nozomi yang diperankan oleh Regita menyalakan tiga buah lilin kemudian setelah itu terdengar suara pintu yang digedor secara keras, yang membuat perasaan penonton menjadi lebih menegangkan serta penasaran.

Pintu digedor secara keras berulang-ulang, lantas membuat Nozomi menjadi tegang dan ketakutan. Serta penonton dibuat penasaran dengan suara gedoran pintu tersebut. Akira, Adik dari Nozomi yang diperankan oleh Puja sedang tertidur lantas terkejut karena dibangunkan oleh Nozomi yang terlihat tegang. Karakter tokoh Akira terlihat menggemaskan, lucu, lugu dan juga bodoh.

Dari keseluruhan cerita secara dramatik, diawali dengan suasana mencekam tetapi seiring berjalannya pentas, pertunjukan dibumbui dengan alunan-alunan tingkah laku tokoh yang menggemaskan, layaknya kakak-adik yang selalu bercanda. Situasi terkurung di sebuah kamar ini, terjadi karena Ayah mereka pergi untuk menghindari tagihan utang yang banyak sementara di sisi lain ibu mereka juga meninggal dunia. Keadaan ini membuat mereka merasa tertekan dan berfantasi di dalam keadaan yang serba enak padahal keadaannya berlawanan sama sekali.

Fantasinya ini seakan-akan mereka sedang berada di menara Tokyo padahal nyatanya mereka tidak kemana-mana, menelfon ibunya yang padahal ibunya itu sudah meninggal dunia. Dan pada akhirnya mereka berdua pun meninggal dunia.


Daunjati/Fahad

Related

Tidurlah Tokyo 1178682031019822058

Posting Komentar

emo-but-icon

Hot in week

item