HIDANGAN PAHIT SI BUNGA RUMAH MAKAN

Foto: Fajrin Alwi / 2019
Ketika lampu menyala, penonton langsung menyaksikan muda mudi lalu-lalang dengan riang keluar masuk rumah makan, latar yang terhidang di atas panggung oleh pertunjukan Bunga Rumah Makan persembahan Zona 1 (Teater Titics, Teater Lakon, Studiklub Teater Unisba, dan Teater Topeng) dalam Parade Hari Teater Sedunia di Gd. Kesenian Dewi Asri pada hari Kamis, tanggal 11 April 2019.

Rumah makan yang  setiap harinya dikunjungi oleh pelanggan yang hilir mudik, laki-laki maupun  perempuan. Rumah makan tersebut menjadi saksi bagaimana para laki-laki tampak datang guna memenuhi kebutuhan perutnya, atau membuang rasa suntuk dengan hidangan yang dihidangkan rumah makan tersebut.  Namun, kebanyakan yang datang, tampaknya hanya kedok atau siasat mereka demi mendapatkan hati perempuan berambut kuncir kuda, Ani namanya.

Ani pelayan rumah makan yang dapat memikat setiap pasang mata baik perempuan maupun laki-laki. Tuturnya lembut, sopan dan ramah. Tetapi hal baik yang berada padanya bukan pemikat yang tanpa cela, misalkan dalam bekerja.  Ani tak jarang mendapat bentakan atau amukan dari majikannya yang bernama Sudarma, dikarenakan keteledoran dalam bekerja, misalkan masih kotornya meja untuk pelanggan di bangku depan itu.

Keteledoran tersebut bukan tanpa alasan, ketidakteraturan yang dianggap oleh Sudarma di rumah makan miliknya itu. Ani pula tidak menghendaki hal yang membuatnya mendapat bentak tersebut. Salah satu penyebabnya karena hadirnya pengemis gelandangan yang sering datang ke tempat kerja perempuan bertutur lembut itu, yang kemudian membuat kekacauan.

Kebuasan pemilik rumah makan, Sudarma, tidak jadi membuat tersebarnya kemarahan kepada anaknya. Sebaliknya anak pria dari pemilik rumah makan bertubuh kurus yang bernama Kurnaen, diam-diam menaruh hati kepada Ani, menelisik dari gelagat awal dan ucapan yang disampaikan Kurnaen si kurus berkacamata itu, secara perlahan menohok ke arah perasaan yang dipendam dan belum tepat disampaikan terbuka pada Ani pada saat itu. Perasaan cinta Kurnaen yang membuatnya sangat marah ketika Ani dihina dan dicacimaki oleh Iskandar, laki-laki yang dengan lantang menyebutkan bahwa Ani adalah pelayan yang telah sengaja menjajakan kecantikannya demi memikat para pengunjung rumah makan tersebutWalaupun kenyataannya di rumah makan tersebut banyak yang terpikat karena paras Ani, hal tersebut jelas pendapat yang melukai perasaan Ani, sebagai pekerja dan seorang perempuan. Ani marah, begitupun Kurnaen sang anak dari bos Ani yang dengan sigap berkelahi dengan Iskandar. Kemudian, Kurnaen tersungkur, dengan malu, kalah dalam perkelahian adu tinju tersebut.

Melihat kejadian dari hari-kehari itu, orang di lingkungan rumah makan tersebut berkesimpulan bahwa Ani harus lekas menikah, begitu tutur Usman, adik Sudarma (pemilik rumah makan), kesimpulan tersebut ditambah kuat oleh peran tokoh Ustad yang terus medoronngnya agar lekas menikah.


Foto: Fajrin Alwi / 2019
Hari-hari selanjutnya adalah hari yang bimbang penuh kepungan rindu bagi Ani pada Kapten Suherman, laki-lak yang tidak jua ada ikatan hubungan yang jelas, sesekali bertemu sebentar, bercakap dan melepas rindu, tapi kemudian pergi. Kapten Suherman, ya, dia selalu pergi dengan badan tegapnya itu. Ani tambah bimbang saat diberi dalil agama terus-menerus oleh Ustad. Di lain hal dirinya sangat mencintai dan mengasihi Suherman kesayangannya, tentara yang selalu dia rindukan yang selalu pergi itu. Kemudian, kenyataan seperti melemparkan bumerang yang besar yang berbalik menyerang dan membuat Ani sedih ters akan kenyataan. Suherman, laki-laki yang dikasihi dan ditaruhi harapannya itu tidak pernah menaruh kejelasan dalam ikatan percintaan.

Setelah perkelahian tempo hari Iskandar ditangkap, walau kemudian dibebaskan dan persoalan perkelahian itu diselesaikan dengan jalur forum yang lebih kekeluargaan. Iskandar terbebas. Ani menjadi spontan simpatik, tanpa dasar yang jelas, Ani justru menjadi punya pikiran bahwa Iskandar memiliki kejujuran, laki-laki yang dia anggap telah mencaci maki melukai perasaannya dan sempat membuatnya marah ternyata, piker Ani, apa yang dikatakan Iskandar berbeda dengan apa yang dikatakan oleh kebanyakan laki-laki yang pernah dia jumpai sebelumnya. Iskandar telah memberi kejujuran yang pahit untuk ditelan, sedang yang lain yang sering dirinya layani, di rumah makan tersebut, hanya memberi ungkapan berbunga tanpa pernah membuahkan sesuatu yang pasti. Seperti si Kapten yang telah mengecewakannya dengan harapan palsu, yang telah merobek kepercayaannya, telah memberi mulut manis kemudian pergi tanpa rasa bersalah.

Ani akhirnya memilih pergi. Bersama Iskandar. Hal itu membuat Sudarma dan Usman kaget dan terheran-heran. Terlebih lagi bagi Karnaen, ahli waris dari rumah makan yang juga pernah berkelahi demi membela Ani. Kepergian Ani bersama Iskandar, bagi Kurnaen adalah pukulah telak dalam adu tinju kehihidupannya yang nyata.

Daunjati/Ridwan

Related

Teater 4494341625196193984

Posting Komentar

emo-but-icon

Hot in week

item