RUMAH BONEKA DAN KEMELUT PEREMPUAN


Pertunjukan "Rumah Boneka" adaptasi Faiza Mardzoeki dari Hendrik Ibsen . Chyntia Dewi Fathan
Pertunjukan lakon Rumah Boneka, adaptasi Faizal Mardzoeki drai Hendrik Ibsen di GK. Sunan Ambu (5/7/2019). Merupakan rangkaian pertunjukan Tugas Akhir Prodi Teater ISBI Bandung. Lakon yang menguak tabir pada abad-19 dimana dominasi laki-laki yang berwatak Patriarki dalam institusi keluarga, mengisolasi tubuh perempuan dalam peliknya hubungan rumah. Ke-tidak mampuan perempuan dalam menentukan langkah-langkah disebabkan karena jejak riwayatnya dibingkai oleh kuasa Patriarki tersebut, misal dahulu dirinya dianggap ‘Boneka mainan yang lucu” oleh ayahnya.
Secara latar belakang Hendrik Ibsen, yaitu seniman penganut gaya Realisme khususnya. Dimana pada awal abad-20 selalu menjadi indikasi yang tepat untuk melukiskan dunia nyata, dan aktual. Memandang karakter manusia sebagai susunan kebebasan, sedangkan alam sebagai susunan keteraturan. Dalam pandangan tersebut, manusia mampu menjadi akrab sekaligus memahami lingkungan. Pandangan tersebut merupakan gagasan tentang kehidupan rumah tangga dan susunan pedesaan yang harmonis. Namun, ketika masuk kedalam era industrialisasi lengkap dengan segala perkembangan teknologinya, manusia mulai hidup dalam kompleksitas dunia baru, yaitu dunia modern. Dari dunia baru tersebut manusia tidak mampu, atau tidak sempat lagi mengakrabi diriya sendiri, bahkan terjadi jarak antara individu dan lingkungan sosial. Teror dari kehidupan tersebut menjadikan manusia dilema psikologis kemudian menyebabkan manusia memiliki keterbatasan pada dirinya sendiri.
Pertunjukan "Rumah Boneka" adaptasi Faiza Mardzoeki dari Hendrik Ibsen. Fotografer: Chyntia Dewi Fathan.
“Rumah Boneka” sering dianggap sebagai naskah Feminis pertama dalam lensa mata sejarah barat. Menggambarkan bagaimana seorang bernama Nora yang diperlakukan serupa boneka, disebabkan dirinya perempuan. Perlakuan tersebut dilakukan pertama yaitu oleh Ayahnya , dan yang kedua oleh suaminya sendiri yaitu Tommy Herlambang. Dalam lakon tersebut menginvestigasi posisi orang-orang khusunya laki-laki dalam melakukan atau menyimpulkan keputusan dalam institusi keluarga pada peradaban Eropa Abad-19. Adegan ketika Nora mencoba melawan suaminya, dan berusaha meninggalkan Rumah. Perilaku Nora tersebut adalah salah satu simbol pemberontakan dari kaum Feminis untuk melawan dominasi laki-laki dalam institusi keluarga khususnya.
Perempuan bernama Nora itu adalah bentuk Representasi perempuan pada zaman itu, dimana sebagai istri atau anak perempuan, hanya dapat ditenggelampan dalam hasrat-hasrat rasa ingin, tanpa menganasir apa yang seharusnya didapat. Perempuan bernama Nora itu telah lama ditindas dan dianggap kecil oleh kaum laki-laki. Dianggap ‘Boneka mainan” oleh ayahnya, alhasil mencetaknya sebagai wanita yang berpenampilan cantik, mewah, tetapi menjadi objek mungil dalam hasrat laki-laki yang Patriarki. Tidak sampai disana, setelah Nora keluar dari lilitan pilihan Ayah yang sangat mengisolasi dirinya. Munculah suaminya yang dianggapnya penolong tetapi tidak jauh berbeda dengan sipat ayahnya yang sama Patriarki.
Upaya baik dari Nora, tetap menjadi yang salah dalam kacamata Patriarki dan struktur moral yang sudah mapan pada Abad tersebut. Ketika dirinya merawat ayahnya yang sakit, juga saat dirinya meminjam nominal uang yang besar kepada Bank. Prilaku yang baik guna menolongpun, tetap menjadi salah. Tatkala dirinya harus menyembunyikan rahasia yang sebenarnya itu baik adanya. Kemudian rahasia tersebut berbalik menyerangnya, layaknya boomerang rahasinya tersebut membalik menjadikan persoalan untuknya. Apakah prilaku baik Nora tetap gelap dan dianggap merendahkan keluarga. Bagi suami yang menjungjung nama baik keluarga.
Pertunjukan "Rumah Boneka" adaptasi Faiza Mardzoeki dari Hendrik Ibsen. Fotografer: Chyntia Dewi Fathan.
Bagaimana jika orang-orang tahu, seorang Tommy Herlambang mempunyai hutang ke Bank”, Ujar Tommy. Pandangan tersebut, rupanya yang menjadi penyebab kenapa semua itu dirahasiakan dengan rapat oleh Nora. Bahwa perempuan bergerak, dan status sosial itu menjadi hal yang tabu pada zaman itu.
Coklat dan tarian menjadi Metafor yang brilian dalam prilaku Nora, juga dalam karya Ibsen. Ketika dirinya harus bersusah payah berbohong kepada sahabat suaminya, juga mengkelabui suaminya, agar hendak memakan sebutir coklat. Makanan yang dirinya kehendaki. Tetapi bagi Tommy, Nora tetap angsa kecilnya, Nora dilarang memakan coklat, agar tetap bagus giginya, tegasnya agar tetap langgeng menjadi Objek mungil, dan tetap menjadi ‘Boneka Mainan’ dalam rumah Tommy.
Juga pada tarian, dimana ketika dirinya diminta untuk menari tariaan kesukaan Tommy, dirinya menolak dengan melawan setiap kontruksi sosial dengan tubuhnya, tubuhnya menari dengan bebas, melompat.
itu bukan tarian angsa kesukaanku”ujar Tommy, sambil kewalahan melihat tingkah istrinya. Kemudian munculah kekuasaan laki-laki disitu. Marah, geram, dikarenakan kehendaknya tidak dituruti.
Pertunjukan "Rumah Boneka" adaptasi Faiza Mardzoeki dari Hendrik Ibsen. Fotografer: Chyntia Dewi Fathan.
Penindasan yang dialami Nora adalah salah satu contoh bagaimana pengarang melihat penomena yang terjadi pada Abad tersebut, Kompleksitas dalam ragam riwayat manusia, dalam konteks ini keluarga. Nampaknya sangat dapat kita lihat pula pada hari dewasa ini, misalnya laki-laki yang menganggap perempuan itu kecil juga perlu perlindungan laki-laki. Hal-hal kecil tersebut adalah pelanggengan dari watak Patriarki. Pun yang hendak disampaikan oleh Ibsen melalui karyanya. Bahwasanya perempuan sama seperti laki-laki, mempunyai hak dan wewenang yang setara.
Ridwan Kamaludin/ LPM Daunjati

Related

Teater 9209717815856559393

Posting Komentar

emo-but-icon

Hot in week

item