TITIK HITAM: NODA RUMAH TANGGA DAN LUKISAN YANG DITUTUP

DAUNJATI - Bandung, (26/6). Rangkaian Tugas Akhir yang diselenggarakan Prodi Teater Fakultas Seni Pertunjukan, ISBI Bandung, dibuka oleh pementasan lakon “Titik Hitam” karya Nasjah Jamin. Pertunjukan tersebut merupakan tugas akhir minat pemeranan dari Vina Ratna,  Kartika Putriana, Lukman Nurdiansyah, dan Riki Apriana. Di bawah bimbingan  Dr. Rachman Sabur, S.Sen., M.Sn. dan Dr. Tatang Abdulah, S.Sn., M.Hum. pertunjukan tersebut dimulai pukul 20.00 WIB di Gedung Kesenian Sunan Ambu.

Pertunjukan belum dimulai, namun penonton sudah bisa melihat panggung dengan telanjang. Panggung tampak  seperti ruang tengah sebuah rumah yang sederhana, tidak terlalu mewah, tapi juga bukan sebuah rumah jelek keluarga miskin. Tidak tampak latar kota atau desa pada sepanjang pertunjukan. Tenang dan sederhana, seperti terpisah dari kehidupan masyarakat lainnya. Rumah tersebut adalah kediaman milik keluarga Hartati. Tidak berselang lama, sorotan lampu terang, penonton mulai konsentrasi pada lukisan perempuan muda, berambut terutai dan memiliki pipi yang halus.

Pada awal  pertunjukan terlihat tokoh Ibu sedang terganggu oleh prilaku Adang, kemudian pertengkaran kecil terjadi.  Seperti sudah hal yang biasa, percekcokan terjadi dalam keluarga tersebut. Rumah yang memiliki luka dari masing-masing penghuninya. Saat itu pertengkaran dipicu karena kedua belah pihak mempunyai cara yang  berbeda dalam menerima kenyataan pahit, dan lirih. Kenyataan salah satu anggota keluarga mereka sakit, lunglay tak berdaya,  Hartati namanya.

Adang yang mondar-mandir oleh perasaan cemas tak bertepi. Risau atas kenyataan yang berlansung, pada istri terkasih, juga banyak pula pikiran yang membuat bimbang diri Adang. Dengan memainkan satu buah pisau belati tajam dan mengkilat. Adang dan belati, bukan hal baru sebab, Adang yang dahulu telah berbuat kepahlawanan, di mana mengalahkan beberapa serdadu Belanda dengan satu buah pisau belati. Perjuangan yang menyebabkan ia mempunyai pengalaman yang sangat intim dengan nelati tajam dan mengkilat itu. Adang yang demi perlawanan terhadap Kolonial, menjadi salah satu korban dari riwayat perang dan perjuangan kemerdekaan dan membuatnya terhinggap penyakit impotensi, dampak dari luka fisik pengalaman itu (dalam lakon hanya istrinya saja yang mengetahui).

Adang gelisah, saat perempuan tercinta, perempuan penghias rumahnya, sakit. Dan, tidak  mau bertemu dengannya, suaminya sendiri. Seribu tanya meluap-luap menimbulkan gelisah tiada henti tat kala Adang bertengkar tentang persoalan sikap yang harus ditempuh, apakah  harus diam, berdoa, berharap dalam sepi dan damai seperti kata Ibu. Atau gelisah, kacau, seperti diri Adang saat ini?  Semua jawab hanya ada di balik pintu, terkapar tidak berdaya, hanya menyebut-nyebut nama adiknya, Rahayu.

Adang yang sangat cinta terhadap rumah, pergi dengan larut waktu guna menghiasi tubuh Hartati,  istrinya. Tetapi ada yang keliru dalam pandangan Adang, sebab bukan hanya kebutuhan jasmani saja yang diangap penting. Tetapi apa yang terjadi pada Hartati itu tetap jadi tanda tanya. Segala tanya hanya dapat menjadi sia-sia, disayangkan sekarang dirinya terbujur kaku enggan menelui suaminya sendiri, hanya menyebut-nyebut nama adiknya, Rahayu.


“Dia akan sembuh jika dia mempunyai keinginan untuk sembuh”, ujar dokter. Dokter yang bertubuh renta, berambut putih. Dokter Gun namanya. Dokter yang diam-diam menyimpan banyak rahasia personal dengan Rahayu (Adik Hartati yang tengah sakit).


Tak berselang lama, datang Rahayu lengkap dengan koper dan barang bawaanya, cukup lama dirinya meninggalkan rumah, sebab ada pilihan yang harus dipegang erat, ialah kasih yang sungguh. Terjadi perdebatan kemudian saling membuka titik hitam dosa pada wajah masing-masing, pada Dokter Gun juga Rahayu. Saling bertasbih satu sama lain prihal kebebasan dan perempuan, dokter yang bersilat lidah tentang rumah dan keharusan.

Dokter dengan usia tua berpandangan tentang rumah dan kekeluargaan, lewat prinsip kekeluargaan yang ideal menurut pandangan lama. Dokter berkesimpulan jangan sampai tergilas jaman kemudian lupa kodrat perempuan. Rahayu sama beraninya, “Kau masih menganggapku hijau? Aku bukan anak sepuluh tahun itu!”, teriak Rahayu. Baginya, perempuan bebas menentukan nasibnya, bebas bepergian jauh dari rumah. Sebab Rahayu teringat kejadian tempo waktu itu. Kemudian panjang cerita bertitik tuju kepada dosa yang pernah mereka lakukan bersama, di mana Rahayu diaborsi oleh Dokter Gun. Dalam obrolan tersebut, Dokter Gun lebih gugup dan risau dari sebelumnya.

Hartati yang dicemaskan seluruh penghuni rumah, suami, ibu, adik, juga Trisno (Adik dari Adang). Trisno adik Adang, sejak dulu selalu membuat kakaknya merasa kalah, dan kecil. Trisno pun diam-diam bermain mata dengan Hartati, istri kakaknya sendiri. 

Inilah asal muasal Hartati terbujur kaku, sakit dalam yang parah, tegasnya. Hartati merasa tidak pernah bahagia sepenuhnya dengan Adang, tercermin dari dialog Hartati, “Aku merasa bahagia dengannya, aku juga mencintainya. Bukan cinta pangkal segalanya, karena cinta pun tidak mampu memberi apa yang diharap”. Hartati merasa, kebutuhan biologisnya tidak terpuaskan. Kemudain terjadilah polemik asmara di rumah itu.

“Kau tidak mencintaiku, kau hanya mencintai kejantananku”, seru Trisno ketika sudah berbicara panjang lebar dengan Hartati. Kemudian  menarik kesimpulan demikian, sebab sosok Hartati tersebut memang hanya membutuhkan Trisno sebagai pemuas hasratnya saja. Mereka tidak bercerita tentang talikasih atau hal yang intim dari kasih sayang. Itulah salah satu penyebab Hartati sakit. Dirinya terpukul melihat kenyataan bahwa perutnya hamil oleh Trisno. Tidak dapat terelakan sebab, suaminya tidak pernah menyentuhnya sama sekali. Ditambah lagi, ddiknya pergi dari rumah sudah jauh-jauh hari, meniggalkannya karena sebuah pertengkaran.

Tidak hanya sampai di sana, Adang yang bersembunyi, diam-diam mendengar kehamilan Hartati, yang dilakukan oleh adiknya sendiri. Frustasi, kesal, geram seketika menjadi sahabat yang dekat. Tidak berselang lama bertengkar, Trisno dipukul oleh Adang dan terjadi pertengkaran yang sangat sengit, setelah reda, semua masuk kedalam rumah. Kecuali Trisno. Dengan segala harapnya terhadap Hartati, yang dianggap kacamata moralis sangat keji dan hewani. Dengan gelisah dan rasa bingung, Trisno berjalan dengan lunglai, meratapi dan meraba apa yang telah terjadi dan yang akan terjadi, dengan rasa bimbang dan sedih, perlahan Trisno menutup lukisan Hartati yang ketika mereka bermesraan dahulu, lukisan tersebut belum selesai.


Ridwan Kamaludin/ LPM Daunjati

Related

Teater 4182701058155567601

Posting Komentar

emo-but-icon

Hot in week

item