Traumatik Psikologis Seorang Wanita dalam Drama Death And The Maiden



                                      PERTUNJUKAN DRAMA DEATH AND THE MAIDEN KARYA ARIEL DORFMAN

Pada tanggal 3 Juli 2019 telah terselenggarakannya tugas akhir dengan minat pemeranan di G.K Dewi Asri oleh mahasiswi teater Isbi Bandung yang bernama Anissa. Beliau telah membawakan sebuah naskah yang berjudul Death And The Maiden karya Ariel Doftman. Tema utamanya dalam pertunjukan Death And The Maiden ini adalah mengenai trauma psikologis seorang wanita akibat kekerasan rezim fasis. Lakon ini mengangkat permasalahan seputar psikologi kekerasan dan citra buruk dari rezim fasisme (paham politik yang mengagungkan kekuasaan absolut tanpa demokrasi). Diceritakan bahwa seorang wanita bernama Paulina Salas ( yang diperankan oleh Annisa) mengidap Post Traumatical Stress Disorder (PTSD) dalam bahasa Indonesianya yaitu Gangguan stres pasca trauma atau lebih spesifik lagi penyakit psikologinya masuk dalam kategori Rape Trauma Syndrome (efek-efek traumatis yang dialami korban sesudah suatu peristiwa perkosaan) karena pemerkosaan yang dilakukan oleh orang-orang yang dia tidak kenal. Trauma psikologis yang di idap Paulina menjadi permasalahan sepanjang lakon ini, akar permasalahan ini dipicu oleh kedatangan seorang tamu yang telah menolong suaminya (Gerardo Escobar ) saat mengalami kempes ban di jalan yaitu seorang dokter (Roberto Miranda) yang tidak lain adalah salah satu pelaku kekerasan dan pemerkosaan terhadap Paulina 15 tahun yang lalu. Maka kemudian timbul konflik-konflik diantara ketiga orang itu. Dalam konflik ini terungkap hasrat Paulina untuk membalas dendam, ketidak setujuan Gerardo terhadap keinginan balas dendam istrinya dan penyangkalan Roberto dari tuduhan Paulina.

Penculikan, penyiksaan keji, pemerkosaan, hingga pembunuhan di dalam suatu rezim militer yang otoriter bisa terjadi di negara mana saja. Bisa terjadi di Eropa pada masa rezim fasis Hitler. Bisa terjadi di Indonesia pada masa rezim Soeharto. Dan, seperti latar dalam drama yang ditulis oleh sastrawan Amerika Latin ini, Ariel Dorfman, bisa juga terjadi di Chili. Naskah drama “Death and The Maiden” ini memang ditulis oleh Ariel Dorfman dengan struktur dramatik yang realis. Karya yang berkisah tentang trauma seorang aktivis perempuan korban penculikan, penyiksaan, dan pemerkosaan pada masa rezim militer Pinochet di Chili, ditulis oleh Ariel Dorfman secara nyaris sempurna sebagai sebuah karya drama realis: baik dari aspek alur dramatik maupun kompleksitas psikologis tokoh-tokohnya. Kisah dimulai di sebuah vila tepi pantai. Sepasang suami-istri, Gerardo Escobar dan Paulina Salas, sedang berlibur di sebuah vila di tepi pantai. Gerardo Escobar, biasa dipanggil Garry, adalah seorang pengacara sekaligus calon anggota Komisi Rekonsiliasi Hak Asasi bagi korban kekerasan rezim militer Pinochet, dalam adegan pembuka drama ini dikisahkan baru saja pulang dari satu perjalanan yang membuatnya kesal: ban mobilnya tertusuk paku saat ia hendak pulang ke vila. Garry bercerita ia bisa pulang ke vila setelah ditolong dr. Roberto Miranda yang meminjaminya dongkrak mobil dan ban serep. Adegan berlanjut dengan pertengkaran antara Paulina dengan Garry, mulai dari soal makan malam yang dingin, dongkrak di mobil Garry yang hilang, kecemburuan Paulina terhadap Jane (kekasih gelap Garry), hingga soal pencalonan Garry sebagai anggota Komisi Rekonsiliasi Hak Asasi. Adegan berlanjut dengan suara ketukan pintu di vila mereka pada tengah malam. Rupanya tamu tak diundang itu adalah dr. Miranda, seorang lelaki paruh baya yang kelak diketahui pernah ditugaskan di penjara rahasia rezim


                                  PERTUNJUKAN DRAMA DEATH AND THE MAIDEN KARYA ARIEL DORFMAN
militer Pinochet. Mendengar ketukan tengah malam itu, Paulina, mantan aktivis politik, tampak sangat ketakutan. Trauma 17 tahun lalu saat ia diculik oleh rezim militer Pinochet bangkit kembali. Konflik utama pun dimulai. Setelah adegan “ramah-tamah” antara Garry dan dr. Miranda, akhirnya dr. Miranda didesak oleh Garry untuk menginap di vilanya karena telah terlalu larut untuk pulang. Lalu, setelah Garry tertidur, Paulina diam-diam – dengan pistol di tangannya – masuk ke kamar dr. Miranda dan memukul kepalanya dengan gagang pistol. Sang dokter itu pun pingsan. Paulina menyeret dr. Miranda ke ruang tamu, mengikat kedua tangannya di kursi, menyumpal mulutnya, dan mamalu ibu jari kedua kaki sang dokter. Konflik terus berlanjut makin memuncak dengan munculnya Garry yang terkaget bagai disambar petir saat esok paginya menyaksikan dr. Miranda, sahabat barunya itu, telah terikat di kursi dengan mulut tersumpal. Ketika Garry bertanya kepada Paulina mengapa ia melakukan tindakan aneh itu. Paulina berkata bahwa dr. Miranda adalah orang yang dulu menyiksanya dengan keji di penjara rahasia, orang yang memperkosanya berulang kali, orang yang menyeterum vaginanya dengan listrik. Garry, sang pengacara itu, bertanya setengah tak percaya, “Bagaimana kamu bisa tahu?” Dan Paulina menjawab dengan emosi traumatik yang memuncak, “Saya begitu hapal suaranya, caranya mengucapkan kata-kata, caranya tertawa.” Paulina juga menjelaskan bahwa ia menemukan kaset musik klasik “Death and The Maiden” karya Schubert di mobil sang dokter. Musik klasik itulah yang didengar Paulina saat ia sedang disiksa dan diperkosa berulang kali oleh sang dokter. Konflik terus berlanjut dengan upaya sang dokter untuk meyakinkan Garry, sang calon anggota Komisi Rekonsiliasi Hak Azazi, bahwa dirinya tak bersalah. Ia menyatakan bahwa semua pernyataan Paulina itu tidak benar. Ia menduga bahwa Paulina “sakit jiwa”.
Begitulah, adegan demi adegan bergulir untuk membuktikan siapa yang bersalah dan siapa yang benar, siapa yang menjadi penyiksa dan siapa yang menjadi korban, siapa yang sakit jiwa dan siapa yang waras dlama drama realis yang memikat ini.


WARTAWAN DAUNJATI
FAHADPA ALFAJ

Related

Teater 7091391040017915136

Posting Komentar

emo-but-icon

Hot in week

item