Perang Tomat, Tradisi Unik di Kampung Cikareumbi Lembang Bandung Barat.



Warga Kampung Cikareumbi RW 03 Desa Cikidang Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat  yang sedang melakukan ritual pertunjukan perang tomat, makna filosofisnya adalah sebagai upaya untuk menghilangkan sifat burut pada diri manusia. Minggu (13/10/2019).  Dokumentasi Fahadpa Alfaj.

DaunjatiOnline.com, Lembang (13/10/2019). - Hajat Buruan Rempug Tarung Adu Tomat atau perang tomat. Istilah inilah yang dipakai oleh warga kampung Cikareumbi Rw.03 Desa Cikidang Kec. Lembang Kab. Bandung Barat. Tradisi yang awal mulanya di cetus oleh warga sekitar pada tahun 2010. Mereka menginginkan acara serupa seperti di desa Cihideung yang selalu mengadakan sebuah acara ruwatan bumi setiap tahunnya yang bernama Cihideung festival. kemudian berselang dua tahun lahirlah perang tomat yang bertepatan di tahun 2012 yang di cetus oleh mbah Nanu selaku budayawan sekitar. Menurut penuturannya pada awalnya mbah Nanu melakukan sebuah riset ke daerah perkebunan di Cikareumbi, ia melihat kenapa banyak tomat-tomat yang berserakan dan juga sudah busuk, disitulah ia menggagas sebuah ide yaitu perang tomat. Dengan tujuan diselengarakannya acara ini untuk ngeruwat bumi yang artinya adalah membuang sifat-sifat buruk. Mbah Nanu menjelaskan dalam sebuah wawancara langsung:  “ kalau dalam bahasa sundanyamah adalah miceun gegeret, gegeuleuh, kekeumeuh”. 

Warga Kampung Cikareumbi RW 03 Desa Cikidang Kecamatan Lembang, Kabupaten Bandung Barat  yang sedang melakukan ritual pertunjukan perang tomat, makna filosofisnya adalah sebagai upaya untuk menghilangkan sifat burut pada diri manusia. Minggu (13/10/2019).  Dokumentasi Fahadpa Alfaj.
Perang Tomat sendiri ialah ritual sebagai tanda syukur warga atas melimpahnya hasil alam di perkampungan. Tapi hal itu tidak tiba-tiba digelar. Sebelumnya ada sejumlah kegiatan yang melengkapi peristiwa syukuran tersebut. Sebut saja ritual Ngaruat Bumi, Hajat Buruan, dan Helaran. Dan mbah Nanu sebagai seorang budayawan sekaligus inisiator Perang Tomat menjelaskan bahwa:
"Sebagai bentuk rasa syukuran atas diberikan tanah yang subur dan air yang melimpah. Maka dari itu, mereka setiap setahun sekali mengadakan upacara tersebut,"

Tradisi ini diselenggarakan dengan tujuan untuk mengembalikan lagi sifat baik atau kesucian-kesucian di daerah kampung Cikareumbi Lembang dengan simbol melemparkan tomat-tomat yang sudah busuk ke arah pemain yang memakai pakaian seperti seorang kesatria. Seorang pemain yang memakai kesatria ini di ibaratkan adalah manusia jelemaan setan. Jadi, maknanya adalah ibaratkan seperti melempar jumro. Mbah Nanu lalu mengajak masyarakat memanfaatkan tomat-tomat busuk itu menjadi suatu aktivitas berupa perang tomat. Dia menjelaskan, kegiatan perang tomat merupakan pengembangan dari tradisi Hajat Buruan yang sebelumnya digelar secara rutin.
Kemeriahan serta antusias warga Kampung Cikareumbi RW 03 Desa Cikidang Kecamatan Lembang. Saat pelaksanaan puncak acara yaitu saling melemparkan tomat. Minggu (13/10/2019).  Dokumentasi Fahadpa Alfaj.
Hajat Buruan ialah suatu hiburan wujud syukur atau keberhasilan tanaman sayuran yang diungkapkan melalui sedekah sajian tumpeng dan pembagian air keramat dengan harapan mendapatkan barokah agar tanaman tumbuh subur dan mendapatkan lindungan keselamatan, dan Tradisi perang tomat ini merupakan puncak Hajat. Dalam perkembangannya, upacara Ngaruat Bumi pun tidak terpisahkan dari orientasi pemeliharaan lingkungan. Abah menjelaskan saat diwawancarai langsung, bahwa hal tersebut menunjuk pada perilaku masyarakat yang mampu menjaga pula keberadaan sumberdaya air di perkampungannya.
Sementara hajat Buruan menjadi bagian dari upacara ngaruat bumi itu sendiri ditandai dengan memakan hidangan daging domba yang sebelumnya disembelih pada prosesi Ngaruat Bumi secara bersama-sama.

Kebahagiaan warga Kampung Cikareumbi saat melaksanakan perang tomat. Minggu (13/10/2019).  Dokumentasi Fahadpa Alfaj.

Setelah Hajat Buruan selesai, kemudian dilanjutkan dengan arak-arakan para warga ke bale Desa Cikidang dan kembali lagi ke kampung Cikareumbi. Helaran Ngarak tersebut diperlihatkan dengan mengarak jempana yang isinya sayur mayur serta sejumlah boneka berbentuk sapi dan singa.
perang tomat ala warga Cikareumbi dikemas dengan pertunjukan seni. Proses tradisi perang tomat ini diawali pertunjukan atraksi ksatria perang. ksatria ini memakai topeng dan tameng anyaman bambu. Selain itu, adapun berbagai macam pertunjukan seperti arak-arakan yang diliputi para ibu-ibu memakai pakaian yang dibaluti oleh sayur-sayuran . kemudian acara pembukaan yang diiringi oleh lantunan musik sunda yang dimainkan oleh beberapa anak muda . Sementara sisa-sisa tomat setelah acara selesai akan dikumpulkan kembali untuk dijadikan pupuk kompos bagi para petani yang ada di Kampung Cikareumbi. Mbah Nanu dan warga Kampung Cikareumbi berharap dengan adanya kegiatan perang tomat ini dapat meningkatkan seni dan budaya serta nilai perekonomian hasil pertanian warga di daerah Kampung Cikareumbi, Desa Cikidang Kecamatan Lembang. 

Wartawan Daunjati : Fahadpa Alfaj




Related

Teater 591726908598594922

Posting Komentar

emo-but-icon

Hot in week

item