Pertunjukan "Pelajaran" Menjadi Penutup Tugas Akhir Minat Pemeranan Gelombang II



                                                   Pertunjukan Pelajaran Karya Eugene Ionesco.   

Pelajaran adalah lakon yang diterjemahkan oleh Toto Sudarto Bahtiar, dimana lakon tersebut aslinya berbahasa inggris dan dibuat oleh Eugene Ionesco pada tahun 1950 Teaterawan kelahiran Rumania, dimana riwayat hidupnya lahir dan tumbuh di dua negara, yaitu Rumania dan Prancis.  Di Rumania Eunesco menjadi seorang guru bahasa Prancis dan kemudian menikah.
Pada hari kamis (08/11/19), lakon pelajaran di pentaskan di gedung kesenian Sunan Ambu, Pementasan tersebut menjadi penutup dalam rangkaian tugas akhir gelombang II dari Fakultas Seni Pertunjukan Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung. Pada pertunjukan tersebut M. Hilmi Zaeni (Propesor), Puja Amelia (Murid), Chrity V (Merry)
Panggung menggambarkan ruang kerja Profesor. Seperti pada umunya ruangan pengajar, dimana ruang tersebut tidak jarang didatangi tamu yang hendak belajar secara personal. Ditempat tersebut menampilkan jajaran buku yang ditata rapih dilemari besar, juga terdapat tumpukan buku didekat lampu meja belajar. Disebelah kiri panggung dari arah penonton, terdapat lukisan Hitler pimpinan Partai Nazi Jerman yang tengah memunggungi dan mengangkat tangan kanan keatas tanda hendak pergi.
Adegan pertama dimulai dari Merry (Pembantu Profesor) yang tengah membersihkan dan merapikan rumah majikannya sambil merokok, Pembantu tersebut tampak sudah lama bekerja dan mengabdi kepada Profesor. Terlihat dari kebiasaan dan keakraban yang dijalin selama pertunjukan. Kemudian terdengar dari arah luar terdapat suara tamu, kemudian tamu itu masuk, dan duduk manis di ruang kerja Profesor. Tamu tersebut adalah Murid, seorang perempuan berseragam, berkacamata dan rambut diikat dua.  Perempuan tersebut hendak belajar kepada Profesor secara personal dan intim guna mencapai apa yang diharapkan. Dirinya akan mengikuti ujian persamaan doktoral.
Profesor datang dari belakang ruang kerja dengan jas panjang, berkepala pelontos dan mengenakan alat bantu berjalan yaitu tongkat. Keduanya berkenalan dan saling bercerita, salah satunya mengenai kota Paris. Sebagai guru dan Murid Mereka cocok dan senang dengan pertemuan pertama diruang kerja itu.
Peristiwa yang hadir diatas panggung teramat kompleks dan tidak pasti, komedi dan tragedi saling menyatu baik dalam diri antar tokoh maupun narasi cerita. Dalam lakon tersebut bukan hanya humor yang hadir tetapi duka dan nelangsa dihidangkan tepat bersamaan dengan kelucuan tersebut. Hasrat senang dari diri pengajar (Profesor) yang membawa dirinya terhanyut kepada keadaan putus asa tak kala sang murid yang sukar memahami maksud dari Profesor saat dirinya mengajar dan mengurai pengetahuan.
The Lecon karya Ionesco menampilkan bahwa manusia terpenjara dalam bahasa, kemudian menjadikannya Otoriter dan Dehumanisasi. Pengarang lakon tersebut tidak mengerti bagaimana dan mengapa dirinya membuat lakon tersebut. Tetapi karyanya ini adalah salah satu bentuk ketidak setujuan terhadap Nazi yang kala itu dipimpin A. Hitler pada perang dunia ke II, menurut Ionesco kejadian tersebut membuat pengaruh buruk dan mengakibatkan tidak sedikit manusia mengalami depresi, frustasi dan skeptis terhadap harapan dan cita-cita.
Berbeda dengan lakon-lakon drama konvensional yang mempunyai struktur dramatik, seperti yang dituturkan oleh Aristoteles (Klasik) atau Gustav Freytag (Modern). Lain halnya dengan Teks lakon Pelajaran, perbedaan tersebut salah satu sebabnya ialah Ionesco adalah  salah satu pelopor dan dengan tekun menciptakan karya-karya yang dimana kita kenal sebagai Teater Absurd. Seorang kritikus Teater bernama Kenneth Tynan pada tahun 1958 menulis risalah dan mengatakan dengan lugas dan tajam ; Bahwa Ionesco adalah tokoh anti teater, keritikus tersebut beralasan “bahwa dalam karya Ionesco bahasa mulai kehilangan arti sebagai alat komunikasi, bahkan mungkin komunikasi antar manusia sulit diselenggarakan”. Catatan Esslin tentang Ionesco (1976:125). Bagi Ionesco yang disebut Realisme, Naturalisme, dalam kesenian itu hanyalah akal-akalan. Menurutnya  kesenian adalah karya cipta yang tidak pernah nyata, dan tidak dapat dikembalikan kepada kenyataan. Oleh sebab itu, kesenian harus telanjang (Tidak berpretensi).    
Meskipun secara sadar lakon Absurd memiliki nada dasar atau awal pijak suasana yang mencekam, akan tetapi ketercekaman tersebut tidak pernah dibawa kepuncak. Tetapi yang menarik,suasana cekam tersebut sudah dihadirkan sejak awal. Tidak menunggu klimaks yang ditopang oleh komplikasi seperti pada drama konvensional yang berakar dari konsep dasar Poetics Aristoteles, dimana konsep dasar tersebut memandang plot atau alur adalah objek pertama. Lakon absurd karya E Ionesco ini tidak mempunyai pola, dalam alur cerita ini muncul kemungkinan dan ketidakmungkinan sekaligus dan bersamaan.  Dalam teks lakon absurd cenderung meniadakan penekanan khas pada tokoh, dan menghindari munculnya tokoh-tokoh besar macam Hamlet, Oidipus. Dari porsi besar tokoh yang memegang alur peristiwa dan terjadi benturan kepentingan antar tokoh kemudian terjadinya konflik, begitu gambaran alur konvensional, cerita lakon menjadi persetruan dari tokoh Protagonis dan Antagonis. Tetapi lakon Pelajaran yang tidak berbicara mengenai kepentingan kukuh dan ketebalan watak dari tokoh Murid maupun Profesor, tetapi dapat menghadirkan Konflik yang dalam dan kuat.
Dalam lakon Pelajaran ini terdapat absurditas bahasa, yang dimana bahasa gagal hadir sebagai alat komunikasi, kemudian berubah tanpa diduga menjadi alat kekuasaan. Seorang gadis (Murid) terbunuh oleh kata “Pisau”. Seorang perempuan dalam gambaran awal hendak kursus privat kepada Profesor, kemudian dirinya menjadi pendorong awal terjadinya peristiwa yang sama hingga menyentuh angka empat puluh kali.   
lakon yang diterjemahkan oleh Toto S Bahtiar, situasi absurd-lah yang hendak dicapai dan dihadirkan melalui irama dasar tragika. Ionesco bukanlah dramawan yang patuh dan mendewakan kata-kata, bagi Ionesco kekuasaan kata-kata menjadikan kata-kata itu  klise dan manusia hidup dalam suasana rutinitas (PTD, 2002: 270).
Bernet (1963) mengutip sebuah wawancara Ionesco dengan wartawan BBC mengenai penokohan dan naskah lakonnya.
Ionesco :
Apa yang penting adalah menemukan apa yang secara umum ada dan antara aku dan katakanlah seorang tukang sepatu pada awal abad kedelapan belas ; Dan aku percaya bahwa orang pada setiap zaman takut dengan maut. Dan pada identitas dasar inilah aku terpaut. Dan oleh karena itu aku agak tak sependapat pada penekanan pembedaan individu saat orang menciptakan “Tokoh”. Yang menarik perhatianku diatas segalanya adalah identitas orang yang mendasar dalam, karena memanglah yang kubutuhkan hubungan dengan setiap orang dimana saja..
(Barnet: 1963: 570)

Wartawan Daunjati : Ridwan Kamaludin

Related

Teater 3136036078061878220

Posting Komentar

emo-but-icon

Hot in week

item