PROVOKASI TOHPATI TERHADAP INSTRUMEN TRADISI


(Tohpati tengah bermain gitar diacara ICAS ISBI Bandung, sumber foto : Herfan Rusaando)

Menjelang pukul 08.00 wib, kursi merah yang berderet di Gedung Sunan Ambu ISBI Bandung berangsur penuh disinggahi penonton. Mereka perlahan menyebar tanpa komando, mengisi kursi kosong yang belum terisi. Meski tidak sepadat pertandingan persib atau pemutaran film joker, malam itu kamis (28/11/19) penonton yang hadir mampu  membuat suasana menjadi meriah dan menutup suhu ruangan gedung sunan ambu yang semula dingin.

Tidak salah lagi, para penonton yang datang berduyun-duyun itu hadir untuk menyaksikan penampilan Gitaris jazz Kenamaan Indonesia yaitu Tohpati. Pertunjukan yang berlangsung sekitar satu jam, berisi hembusan indah nada-nada progresif jazz dengan balutan instrumen kendang (Endang Ramdan), suling dan saron (Rekha).

Malam itu Tohpati berhasil memancing penonton untuk bertepuk tangan sekencang-kencangnya, mereka bergemuruh dan bergembira menyaksikan pertunjukan tersebut.

Dalam puncak acara ICAS (International Cultural Art Space) yang diselenggarakan Pascasarjana ISBI Bandung, Tohpati unjuk membawakan sembilan Lagu. Satu diantaranya yaitu lagu Es Lilin. Garap musik khas Tohpati yang kental dengan nuansa Jazznya, menjadikan lagu ciptaan Ni Mursih semakin megah dan elegan. lagu lain yang Tohpati sajikan adalah Janger, Keroncong Kemayoran, Luhur dan Alam Semesta, Swarnadwipa,  Penjor, Sekar Jagad, dan Sahaja.

Untuk Sekar Jagad, Tohpati bertutur bahwa lagu tersebut ia buat karena kekagumannya terhadap keindahan pesona batik. Sedangkan Sahaja, ia berkisah,  bahwa dulu perekaman lagunya dilakukan di Studio Jurusan Karawitan ISBI Bandung, sembari menunjuk ke arah belakang gedung. Hal tersebut bukan tanpa sebab, melainkan adanya kebutuhan kolaborasi rekam gamelan secara langsung. Selain itu, Tohpati mengatakan bahwa kemajuan zaman bisa menjadikan kolaborasi dengan gamelan semakin mudah. Hal itu tercermin dalam sistem pelarasan gamelan yang bisa di tala sesuai kebutuhan musikal.


(Tohpati tengah bermain gitar diacara ICAS ISBI Bandung, sumber foto : Herfan Rusaando)

Daya Tawar Estetik                                

Tohpati Ari Hutomo, namanya sudah tidak asing lagi dikancah musik nasional maupun internasional. Seniman kelahiran Jakarta, 25 Juli 1971 ini telah bermain gitar sejak duduk di sekolah dasar kelas empat. Hingga saat ini ia telah banyak melahirkan album solo maupun kolaborasi.   Delapan album solo telah ia produksi seperti Tohpati (1997), Serampang Samba (2002), Its Time (2008), Tohpati Etnomission (2010), Tohpati nertiga (2011), Song For You (2013), Tribal Dance (2014), dan Guitar Fantasy (2015). Selain itu Tohpati telah menghasilkan beberapa album dengan grup Simak dialog, Halmahera dan Trisum.

Menyaksikan lagu-lagu yang dibawakan Tohpati kamis malam di Sunan Ambu ISBI Bandung, memberikan tawaran estetik bagi musik tradisional. Tohpati menampilkan karya-karya yang mampu mengajak instrumen tradisi mengimbangi kompleksitas permainan musik barat. Dalam garap musiknya, ia banyak mengawinkan nada bernuansa jazz dengan nada  berlaras pelog. Perpaduan yang Tohpati sajikan memiliki kesimbangan porsi antara konsep bermain musik barat dan musik timur. Selain bobot garap pada pemilihan tangga nada, Tohpati sangat cerdik mengolah ritme  dan birama yang ia gunakan dalam setiap lagu. Hal tersebut menjadikan pola permainan kendang Endang Ramdan semakin variatif. Dengan kecakapan kemampuan yang dimilikinya, ia mampu menampilkan pola tepak kendang yang tidak biasa. Dinamika dan intensitas bunyi yang Endang mainkan pun bersatu padu dengan gitar yang Tohpati mainkan.

Tanpa mengurangi kerumitan dalam garap kendang dan gitar, penampilan suling dan saron yang dimainkan oleh Rekha menambah kepadatan garap musik Tohpati malam itu. Meski mereka tampil bertiga, musik yang disajikan sangat menawan. Tohpati piawai menggarap lagu dengan membagi porsi yang seimbang untuk setiap instrumen. Selain kelihaian menggarap dinamika musik, ia cermat dalam membangun suasana musikal meski instrumental. Misalnya dalam lagu Es Lilin, dengan pola permainan gitar jazznya, lagu ini Tohpati aransir dengan pertimbangan akor yang merdu. Kecepatan tangannya dalam memainkan gitar pun menjadi indikator  bahwa ia memiliki kemampuan yang luar biasa.

Garap lagu yang dilakukan Tohpati menjadi tawaran estetik bagi instrumen tradisional. Setelah menyaksikan kepiawaian Rekha dan Endang, Musik Tradisi harus percaya diri bahwa alat ini mampu sederajat dengan alat musik barat. Selama ini, masih ada dikotomi antara musik barat dan musik timur yang hidup dalam alam pikir beberapa seniman. Setelah menyaksikan penampilan Tohpati, ia menuturkan dengan bahasa musikal yang elegan, bahwa semua musik dengan instrumen apapun memiliki harkat dan derajat yang sama.

(Dikdik Pebriansyah aka. Venolisme)

Related

Tohpati 6291075704697585329

Posting Komentar

emo-but-icon

Hot in week

item