Pertautan Mesra Musik Multietnik


(MohRam tengah bemain musik pada acara ICAS di G.K SunanAmbu, Sumber Foto: Herfan)

Jika selama ini musik tradisi sering di-dikotomikan dengan musik yang dikatakan modern, Mohram justru menjadi titik tengah di antara keduanya.
Rabu (27/11/2019), Peraih anugerah “Gold Award – Malaysia Tourism Music”ini tampil dalam program ICAS Pascasarjana ISBI Bandung. Kali ini, para apresiator disuguhi musik dengan basis etnisitas yang kuat. Andalannya adalah Seruling Bambu yang dimainkan Mohar (Muhardiman Ismail) dan Rebana yang dimainkan Ramli (Ramli Abdul Hamid).
Menjadikan akar tradisional sebagai pijakan, tak serta-merta membuat musik mereka menjadi kuno. Bahan keenam lagu yang ditampilkan berasal dari musik tradisional berbagai etnis di dunia yang diramu kedalam wajah Melayu.
Keutuhan musik Mohram, ditentukan oleh keberadaan Seruling dan Rebana. Jika keduanya dihilangkan, Mohram tak lagi bernyawa. Hal itu menjadi bukti bahwa ketradisian merupakan unsur kunci, bukan hanya hiasan atau tempelan semata.
Ke-tradisian disulap duo berbakat ini menjadi kekinian melalui aksen-aksen musik yang seolah mengajak ‘bermain-main’ para penontonnya. Dalam suatu momen, untaian melodi lagu‘Asimilasi’ menunjukkan keragaman budaya di Malaysia.Di awal lagu, terdengar nuansa etnis Tionghoa, lalu ada pula suara sitar yang memberi warna India, serta pola tabuh rebana yang kental suasana Melayu. Di lanjutkan ‘Galamaya’ yang memuncak dalam gradasi warna musik Timur Tengah bertempo cepat.
Dinamika mulai terasa ketika ‘MenujuCahaya’ terasa mengalun seperti lagu-lagu terapi. Para apresiator seperti diajak merenung dalam sebuah perjalanan kebatinan. Namun ibarat grafik yang menanjak, dalam ‘Tari-tariWau’, Mohram menyuguhkan penekanan aksen-aksen bunyi yang kuat, keras, cepat, dan mengentak.
Pesona Mohram membuat para penonton tak beranjak hingga lagu penghujung “Hawa Ledang” dan “Perahu”, yang sangat karib dengan musik Sunda. Mohram sebagai orang Melayu, nyatanya mampu membuat penonton mengakui bahwa ia dapat menciptakan suatu perpaduan mesra antara Melayu dan Sunda.
Para penonton diajak menjelajahi untaian melodi yang penuh kejutan. Keragaman orkestrasi, perubahan tempo dan irama, hingga perubahan ‘mood’ di dalamnya, membuat musik Mohram berada di luar kelaziman logika musik Sunda, tapi anehnya tetap bisa ‘dinikmati’.
Terlihat kerumunan penonton yang mengikuti ritme musik dengan anggukan kepala, hentakan kaki, ataupun tepukan tangan.Dalam jembatan antar lagu pun, para penonton cukup ekspresif saat Mohar memprovokasi mereka untuk terus berinteraksi.
Perpaduan yang rapi dan apik, menunjukkan bahwa bagi mereka, kekompakan musikal merupakan harga mati yang tak dapat ditawar. Hal itu cenderung sulit dilakukan jika tanpa proses latihan yang ketat. Benar saja, ternyata Mohar (Moh) dan Ramli (Ram) sudah menyatukan alam pikirnya sejak tahun 1998.
Berawal dari kegelisahan atas kenihilan rasa puas dalam berkesenian, Moh dan Ram menggagas alternatif musik tradisional dengan wajah baru. Buah pikir itu dituangkan menjadi sebuah album ‘Sakti’ (2000), yang rencananya akan mereka jual saat mengamen di Eropa untuk mengadu nasib.
Siapa sangka, album yang tadinya diperuntukan untuk jalanan, ternyata menarik perhatian banyak orang, termasuk Mentri Malaysia hingga Sultan Maroko. Berangkat dari situ, dua seniman eksentrik ini menggarap album-album lainnya yakni “Antarsukkha (2005)” yang berarti kebahagiaan dari dalam, dan “Alam” (2012)sebagai bentuk kecintaan mereka terhadap semesta.
Ketiga album tersebut masing-masing dikerjakan dalam waktu satu tahun penuh. Hal itu terhitung cukup lama, mengingat kebiasaan musisi kebanyakan yang memproduksi album hanya dalam hitungan bulan saja. Alasannya sederhana namun visioner, Moh dan Ram mengaku tak bisa buru-buru dalam melahirkan suatu karya.
Bagi mereka, karya harus tercipta dari dalam jiwa dan emosi yang tenang dan stabil, agar mampu memperhitungkan kualitas musik yang akan diproduksi. Tidak terlalu rumit, namun tidak juga terlalu dangkal, agar musik yang dihasilkan tetap ‘cerdas’, namun diterima oleh masyarakat di berbagai kalangan.

         (MohRam tengah bemain musik pada acara ICAS di G.K SunanAmbu, Sumber Foto: Herfan)

“Menyampaikan pesan tak mesti melalui verbal atau kata-kata. Bahasa musik itu tajam dan mampu menggetarkan jiwa”, ucap Ram. Menciptakan musik adalah cara Mohram merespon lingkungan. Lagu ‘Menuju Cahaya’ misalnya, merupakan respon pengelihatan Mohram ketika melihat penderitaan umat manusia.
Menuju Cahaya’ merupakan manifestasi dari dahsyatnya pengaruh musik. Karya itu ternyata mampu menggugah hati jutaan masyarakat dalam penggalangan dana untuk para korban Tsunami Aceh melalui berbagai media.
Kepekaan Mohram, berasal dari pengalaman pribadi mereka. Di masalalu, Moh dan Ram mengalami kepahitan hidup, sehingga mereka senantiasa gelisah ketika melihat penderitaan yang dialami orang lain.
Moh menarik nafas panjang dengan mata yang berbinar, “Kami tidak mampu membeli gitar, tak mampu pula sekolah seni. Dulu kami memainkan musik dangdut dan keroncong dari panggung kepanggung, tapi dengan kedalaman hati dan emosi, kami mampu menempuh jalan yang tak pernah kami sangka sebelumnya ini”.
Hingga saat ini, Mohram terus berpetualang menembus batas negara untuk terus mengobarkan semangat berkarya dan megabarkan keindahan musik multietnik kepada dunia.
Di akhir pertunjukan, Mohram mengawinkan style bermusiknya dengan Sambasuda, grup musik etnicfusion asal Bandung. Walaupun dilakukan secara spontan (tanpa latihan), perjumpaan keduanya melahirkan musik yang ‘ramai’, kompak, dan dinamis. Ketika dua grup ini berpadu, mereka seolah mengisahkan kebhinekaan dan membentangkan titik temuan antara tradisional dan modern.
“Kita bisa terus mengikuti perkembanganzaman, tanpa harus kehilangan jati diri. Dengan begitu, martabat seni tradisonal akan terangkat di mata dunia”, tutur Mohar.

Bunga Dessri Nur Ghaliyah (Kritikus Karawitan) 





Related

Pertunjukan Seni 7716406877600727649

Posting Komentar

emo-but-icon

Hot in week

item